Toleransi Saat Ujian - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Toleransi Saat Ujian

Tadi pagi ketemu lagi dengan teman-teman penulis dari malang, ketemu di FB. Ada bahasan menarik pagi ini dan untuk itu aku punya cerita mini. Ini karangan, dikarang dengan asal, tanpa peduli dengan EYD atau teori menulis.
Toleransi saat Ujian

Toleransi Saat Ujian 


Sebuah SMA, anggap saja SMAN 4. Biar aku jadi ingat sekolahku. Jadi SMAN 4 memiliki jumlah murid 40.000 orang siswa. dengan persebaran 30.000 orang siswa kelas XII, 500 orang siswa kelas XI, dan 500 orang siswa kelas X.

Pada satu minggu ini, siswa kelas 3 akan mengalami sebuah momen yang sangat penting dan berharga, yaitu Ujian Akhir Nasional. Ujian ini akan berlangsung selama satu minggu dan beberapa peraturan dalam ujian ini ialah:
1. Tidak boleh berbicara saat ujian.
2. Tidak boleh membuka buku saat ujian.
3. Tidak boleh menggunakan kalkulator saat ujian.

Ketika ujian berlangsung. Setiap siswa kelas XII bingung, panik, tertegun melihat tulisan "Hormatilah adik tingkat kalian yang sedang tidak ujian".

Tamat. 


Logika macam apa sebenarnya yang ada di benak guru yang menuliskan pesan tersebut?

Apakah dalam hal ini saat ujian siswa kelas XII nggak boleh bicara, tapi ke adik tingkat mereka boleh mengobrol, karena kalian harus menghormati adik tingkat?

Dibandingkan menuliskan "Harap tenang, ada ujian" yang ditujukan pada 1000 orang siswa kelas XI dan X sehingga mereka tidak mengajak siswa kelas XII berbicara, guru lebih memilih menulis "Hormatilah adik tingkat kalian yang sedang tidak ujian" yang ditujukan untuk 30.000 siswa.

Apa siswa kelas XII perlu membawa kalkulator untuk dipinjamkan kepada adik tingkat? Setidaknya untuk menunjukkan rasa menghormati-nya terhadap adik tingkat yang tidak ujian?

Padahal di situasi ini, adik tingkat yang sedang nggak ujian bebas menggunakan kalkulator.

Maksudku nggak bisa apa para adik tingkat ini menyediakan kalkulatornya sendiri-sendiri buat dipakai masing-masing. Harus gitu yah kelas XII yang bawa kalkulator, biar mereka bisa pakai?

Hahaha.. sekali lagi ini hanya fiksi belaka. Kejadian serupa nggak mungkin lah terjadi di kehidupan nyata. Nggak mungkin terjadi di Indonesia yang rakyatnya makmur sentosa.

Thanks for reading.
 
Back To Top