Pendidikan Karakter Anak dalam Summer Camp di Jepang - Belajar Bekerja dan Berproses - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Pendidikan Karakter Anak dalam Summer Camp di Jepang - Belajar Bekerja dan Berproses


Salah satu pengalaman paling berharga saat liburan musim panas kemarin ialah dapat kesempatan untuk ikut Summer Camp bersama anak-anak kecil di Jepang. Awalnya aku memang sudah membayangkan untuk ikutan summer camp di Jepang. Soalnya dari banyak anime yang aku tonton (terutama anime sport), summer camp di Jepang itu seru banget. Kebetulan saat liburan musim panas aku sempat main-main ke L-Cafe. Dari cafe ini aku dapat informasi lowongan untuk menjadi tamu internasional yang akan mengajari anak-anak berbahasa Inggris di summer camp. Mendengar itu aku langsung mendaftar. Kan asik, selain main-main dan melihat budaya summer camp, juga dihitung baito (kerja part time).

Kami berangkat pada hari Jum'at. Seperti biasa, transportasi yang paling bisa diandalkan di Jepang, kereta api alias densha. Dari Okayama st. kami menuju ke Yoshinaga st. lokasi acaranya di Bizen, masih bagian dari Perfektur Okayama. Ini map-nya:

Setelah satu setengah jam duduk di densha akhirnya kami sampai di lokasi. International student yang hadir berasal dari beberapa negara, tiga orang cewek dari vietnam, kemudian satu cowok dari Inggris, satu Iran, satu Turki dan aku sendiri.

Awalnya aku kira peserta yang katanya anak-anak ini adalah anak SMP dan SMA karena memang di Jepang Bahasa Inggris baru menjadi pelajaran wajib di bangku SMP. Tetapi ternyata yang hadir ialah anak-anak kecil kelas SD, dan yang mendominasi ialah usia kelas 1 sampai 3 SD. Dari situ aku mulai bingung, "Lahh ini anak mau diajarin Bahasa Inggris gimana caranya kalau nggak ada bahasa pengantarnya? Aku kan nggak bisa Bahasa Jepang?".

Belajar Bahasa Inggris

Acara pertama pada hari ini ialah pembukaan, seperti biasa yang sudah melegenda, acara ini dilaksanakan tepat waktu. Semua anak berbaris di lapangan dan tepat ketika kami sudah berbaris rapi di lapangan, hujan turun, akhirnya kami mengungsi ke dalam teras gedung dan pembukaan dilakukan disana.
Beberapa menit sebelum hujan
Setelah itu masuk ke acara belajar Bahasa Inggris di ruangan kosong (semacam aula/gym). Dalam jadwal acara, tertulis bahwa kami akan menceritakan tentang negara kami masing-masing. Tapi nggak pernah ada informasi bahwa kami akan menceritakannya di depan anak SD.


Di awal masuk ruangan kami sudah diminta untuk menceritakan tentang negara asal kami. Aku juga masih bingung bagaimana harus mulai, karena hanya disediakan peta dan bendera negara. Diminta menjelaskan tentang Indonesia ke anak-anak usia 6-11 tahun yang mereka nggak ngerti Bahasa Inggris itu gimana yah.. Sulit!

Akhirnya aku hanya menjelaskan beberapa hal yang bisa diperagakan di depan anak-anak, seperti; Di indonesia panas sepanjang tahun seperti di Okinawa, di Indonesia banyak orang, di indonesia ada banyak pulau seperti di Jepang, Indonesia memiliki banyak bahasa, dll.

Tak cukup sampai disitu, ternyata sesi berikutnya ialah sesi tanya jawab. Wow! Jadi apa yang sudah kami ceritakan akan kami tanyakan, tetapi pertanyaanya harus dalam bentuk jawaban "ya" atau "tidak". Kami mahasiswa internasional yang sama-sama nggak siap langsung berpandangan dan berharap seseorang mulai duluan. Sederhana, tetapi berkesan buatku. Berkesan karena aku dipaksa berfikir keras ditempat. XD

Sesi pertanyaan

Belajar Memasak Dengan Tungku dan Kayu Bakar

Setelah belajar Bahasa Inggris yang tidak seberapa itu, kami lanjut ke acara berikutnya yaitu masak-masak dan makan. Dalam deskripsi kegiatan, kami diharapkan mengajarkan anak-anak tentang peralatan masak yang akan kami gunakan dalam Bahasa Inggris. (tetapi dalam prakteknya kami asik masak dan lupa tentang ini).

Awalnya sih aku juga mikir "Waduh.. Anak-anak kecil gini diajakin masak? bisa jadi juga nggak nih?" dan untuk memperparah prasangka burukku itu, kami harus berjalan cukup jauh, sekitar 20 menit, masuk ke daerah dalam hutan untuk memasak, dan memasak dengan tungku dan kayu bakar. Komplit dahh!
Baca Juga: Pendakian Gunung Fuji Jalur Kawaguchiko

Sebelum memasak kami dikumpulkan di ruangan (semacam aula juga), kemudian diberikan pengarahan terkait peralatan yang akan digunakan, penjelasannya ini sangat panjang, mendetil dan tentu saja tidak aku pahami karena menggunakan Bahasa Jepang. Setelah mendengarkan intruksi panjang itu, kami langsung bergerak mengambil bahan makanan dan peralatan yang akan digunakan. Ternyata anak-anak kecil ini bisa langsung bekerja hanya dengan satu kali instruksi.

Anak-anak yang kecil-kecil (usia 6 tahunan) langsung mengambil tempat masak nasi, memasukkan beras ke dalamnya dan mencuci beras tersebut. Sedangkan anak yang cukup besar (sekitar 9-11 tahun) langsung mencuci sayuran dan berusaha memotong-motong sayuran. Ngeri juga pas lihat cara memotong sayurannya, akhirnya aku ambil pisau dan memotong juga biar cepat selesai (mumpung jari-jari mereka masih utuh). Ternyata anak-anak pada lihatin cara motongku, katanya "jozu!" (mahir nih!). Kemudian mereka aku ajarin cara motongnya agar setidaknya di makanan ini nanti tidak ada rasa daging dari jari-jari kecil mereka.

Urusan nyalakan api semuanya sudah diurus oleh pak guru-nya. Akhirnya nasi kami taruh tungku api. Menyusul kemudian ialah panci untuk memasak kari. Penyedap rasanya langsung pakai bumbu kari instant (kemasan) aja, praktis tinggal kasih air dan masukin bahan. Ternyata semua prosesnya berlangsung dengan lancar, nasi sebentar lagi matang, kari sudah dimasak, tinggal menunggu waktu saja sampai wortel di kari menjadi empuk. Artinya kami sudah selesai dengan masakan ini, tinggal menunggu.

Berhubung masak-masak ini ketika hujan, maka semua anak-anak berkerumun di dekat tungku. Selain menunggu matang, mereka juga menghangatkan tubuh. Nah.. sejak dari motong-motong sayur itulah aku jadi deket dengan anak-anak ini. Walaupun komunikasinya masih terbatas, tetapi sudah ada interaksi yang menyenangkan dengan mereka. Alih-alih aku mengajari Bahasa Inggris, disini aku malah banyak belajar kosa kata dan grammar bahasa Jepang.

Makanan Harus Halal

Tak lama kemudian nasi telah matang sempurna, tetapi masih kami biarkan tertutup agar tetap panas, karena kari-nya belum matang. Sementara menunggu kari matang, aku memasak makanan instant. Iya, kan kari yang kita masak sebelumnya itu ada bumbunya dari kaldu sapi, kemudian ada potongan daging-nya yang juga nggak halal. Sebelumnya aku sudah pesan sih kalau nggak akan makan daging dan kaldu yang nggak halal, juga minta siapkan aja sayuran atau tahu mentah (karena ikan daerahnya sulit dapat ikan), aku sih nggak terlalu peduli dengan makanan, asalkan halal udah cukup.  Tapi mereka bilang "Kamu juga harus makan masakan enak seperti yang kami makan" dan akhirnya mereka mendapatkan makanan halal instant yang kemungkinan besar mereka cari di departement store makanan impor.
Itadakimasu!
M: Enak nggak? | A: Enak yo! Mau bang? | M: -__-
Bersamaan dengan matangnya kari yang kami masak, makanan instant-ku juga sudah hangat. Yuk makan.. Yeah! Semua mengambil piringnya masing-masing, ambil nasinya kemudian kari, dan duduk manis di bawah gubuk. Setelah semuanya anak siap, kami bagikan pisang sebagai makanan penutup. Dan pisang yang dibagikan ini hanya setengah pisang untuk setiap anak. Aku ketawa pas membagikan pisang itu. Soalnya gini, nggak pernah kebayang kalau akan ada moment dimana aku 'cuma' bisa makan pisang setengah buah. Kalau di rumah (Kalimantan), pisang itu sudah sampai dibuang-buang dan buat makanan ayam dan mentok. Di sini, pisang ini terbilang mahal, kalau di rupiahkan sekitar Rp. 13.000 perbiji. Lumayan mahal kan?
M: Di Indonesia pisang banyak lho | A: He, Beneran? | M: Iya!
Setelah selesai makan, anak-anak belajar membersihkan piring kotor dan semua peralatan masak yang digunakan. Semuanya harus bersih seperti semula. Aku mencuci panci hitam yang dipakai masak kari, setelah kucuci dan kuanggap bersih, akhirnya kami kembalikan ke bagian peralatan. Ini yang menarik, ketika dikembalikan itu ditolak sama petugasnya, katanya panci yang aku cuci kurang bersih. What? Ternyata mereka maunya gosong dan angus bekas di tungku api itu harus bersih juga. Akhirnya aku gosok dah bagian luar pancinya dengan lebih serius. Setelah itu kami kembalikan peralatannya. Dan yah.. Ditolak lagi. Penolakan yang kedua ini dia tunjukkan kalau pancinya itu bisa lebih bersih, jadi petugasnya menunjukkan cara membersihkannya dan "sampai seberapa bersih" sampai pancinya itu baru bisa dikembalikan. Akhirnya pada pengembalian ketiga kami bisa bernafas lega dan istirahat.

Pada rangkaian acara masak-masak dan makan ini sebenarnya suatu pendidikan karakter yang mereka terapkan pada anak. Awalnya anak-anak diajarkan bahwa makanan yang mereka nikmati setiap harinya itu perlu usaha untuk bisa tersaji di piring. Ketika mereka mencuci beras, memotong sayuran dan menanak nasi, itu semuanya sebuah pendidikan bahwa "Apa yang kamu makan itu hasil dari kerja seseorang. Entah kamu sendiri atau orang lain"

Hal lain yang dipelajari secara tidak sadar adalah bahwa segala sesuatunya butuh proses. Ngapain coba masak harus di tungku dan pakai kayu bakar? Emangnya panitia nggak bisa menyiapkan majikom dan kompor listrik untuk peserta camp? Aku tekankan yah.. Jelas bisa! Sehutan-hutannya Jepang, itu listriknya lancar dan ada microwave, mesin cuci, kulkas dan pemanas air. Artinya ada tujuan lain kenapa menggunakan tungku dan kayu bakar. Ini mengajarkan anak-anak untuk sabar dalam berproses. Proses matangnya nasi dan kari di tungku itu nggak bisa dipaksakan, nggak  dipercepat ataupun diselesaikan. Ini adalah proses yang tidak instant. Mereka harus menunggu dan sabar menanti matangnya.

Terakhir ialah pelajaran yang tak kalah penting, bahwa semua kekotoran yang mereka buat harus mereka bersihkan hingga bersih seperti sedia kala. Kalau melihat apa yang diajarkan disini, maka nggak akan heran lagi kalau di Jepang itu setiap kali ada party pasti langsung beres, semua sampah dan kotoran akan langsung bersih, ruangan kembali seperti semula. Ini adalah hasil dari pendidikan karakter anak-anak Jepang di usia dini.
Baca Juga: Pesta Kembang Api Tahunan di Jepang


I'm A Muslim

Selama istirahat di ruangan sambil menunggu acara berikutnya, Pak Guru mempersilahkan untuk anak-anak bertanya. Yang berkesan ialah, Pak Guru menyuruh anak-anak bertanya "Kenapa makananku berbeda sendiri dari yang lainnya? Kenapa tidak makan kari yang kita buat?". Awalnya aku menjawab dengan jawaban yang mudah dipahami anak-anak. Aku jawab "Aku nggak bisa makan daging disini".

Nah menariknya lagi ialah Pak Guru datang lagi dan mengecek apakah anak-anak sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tadi. Anak-anak jawab seperti yang aku bilang, tetapi rupanya Pak Guru maunya aku jelaskan "the real truth". Akhirnya kujelaskan "Aku ini muslim, kami muslim hanya bisa makan daging sapi kambing dan ayam yang dibunuh(disembelih) oleh orang muslim. Jadi daging di Jepang yang dibunuh oleh orang Nonmuslim tidak bisa aku makan" kemudian ada yang berkomentar "Waah.. Susah yah..." aku jawab dengan mudah "Enggak kok.. Kami bisa makan semua sayuran dan semua yang berasal dari laut. Dan orang Jepang sangat suka dengan hasil laut, jadi sangat mudah untuk mendapatkan makanan halal".

Dari kejadian ini aku melihat sisi menarik dari Pak Guru tadi. Dia seolah-olah berharap anak-anak ini mengenal dunia luar, bahwasannya ada yang namanya orang Muslim, orang yang tidak sembarangan makan daging. Kemudian selama interaksi dengan anak-anak ini, mereka cukup nempel gitu ke aku. Aku harap sih ini memberikan kesan bahwa "Orang Muslim baik-baik kok" dan bisa menghilangkan muslimphobia.

Well.. Sampai sini dulu ceritanya.. Berikutnya masih lanjutan dari pengalamanku di Summer Camp ini, yaitu Pendidikan Karakter Anak Jepang - Menghargai Karya. 

Silahkan share jika postingan ini bermanfaat.. Thanks for reading!

9 comments

Ngikik geli pas baca percakapan tentang pisang itu. :)) Di sana mahal malah di sini murah banget. Apalagi pisang molli. wekeke. Seru acaranya ya, nunggu cerita selanjutnya :D

udah kubilang, kau ekspor pisang aja ke sana. Bisa kaya XD

MY GAWD AKHIRNYA BISA KOMEN DI SINI!

Dari dulu juga bisa kali Mbak.. Blogku sih normal.. Banyak banget yang komen udah dari kemarin-kemarin..

Iya.. Di sini emang lumayan mahal. Makanya bersyukur banget hidup di Indonesia, pisang udah banjir sampe kebuang-buang. hahaha

deg2an pas baca "I'm muslin" takut ditanyain aneh - aneh, tapi gimana pun, anak kecil emang serba ingin tahu :D

Kakak ke Jepang untuk kuliah tapi kok banyak sekali jalan2, yah??apa lagi sudah s2.. masih ada yah waktu untuk jalan2?

Banyak waktu jalan2.. kalau dari 7 hari itu 5hari km habiskan di lab selama 8 jam, sabtu minggu bisa jalan2 lahh..

Wahh enak sekali walau ga bisa bahasa jepang tetap bisa jalan-jalan di jepang .

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top