Menggandakan Uang Ke Kyai? Ke Kimiawan Donk! - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Menggandakan Uang Ke Kyai? Ke Kimiawan Donk!


Beberapa minggu yang lalu, selain kasus Kopi Sianida, berita-berita di tanah air dibanjiri oleh kasus penggandaan uang seorang yang dianggap kyai yaitu Dimas Kanjeng. Yang membuat berita ini semakin panas di dunia maya ialah karena dalam kasus ini pelaku bisa menipu dua orang professor. Walaupun mungkin dua orang itu tadi diangkat sebagai professor, tapi tolong banget jangan melabeli "orang pintar juga kena tipu" karena definisi bahwasannya professor itu pintar, terpaksa harus kita refisi untuk kasus ini. Mendengar kasus penggandaan uang ke kyai ini, aku jadi teringat kisah kimiawan masa lalu.


Sebelum Masa Kimiawan

Pada masa-masa awal, ilmu kimia masih tergabung sebagai sihir. Belum ada yang bisa menjelaskan tentang peristiwa kimia secara logis dan terstruktur. Jika terjadi perubahan warna dari suatu cairan menjadi warna lain, maka secara sederhana dianggap sebagai sihir. Pada masa-masa ini beberapa orang yang memiliki pengetahuan tentang perubahan-perubahan warna dan perubahan wujud gas ini disebut penyihir. 

Ilmuwan Kimia Masa Awal

Perkembangan berikutnya ialah mulai diakuinya kimia sebagai ilmu. Beberapa pemimpin (khalifah dan raja) mulai mengetahui bahwa kimia merupakan ilmu yang sistematis, memiliki metode tertentu yang terukur sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia.
Mengetahui hal ini, penguasa mulai mempekerjakan ahli kimia sebagai tabib istana (dunia medisinal), pembuat ramuan obat dan berbagai kepentingan lainnya. Kemudian seiring berjalannya waktu, negara mulai menggunakan ilmuwan, termasuk kimiawan untuk banyak kepentingan. 

Kimiawan Dapat Menggandakan Uang!

Pada masa lalu, pemerintah telah menyadari betapa pentingnya ilmuwan kimia dan betapa berbahayanya mereka. Salah satu yang paling menarik ialah setiap kimiawan di masa lalu, utamanya kimiawan kerajaan akan disumpah untuk tidak menggunakan ilmunya untuk hal-hal ini:

1. Membunuh (terutama melalui racun)
2. Memperkaya diri sendiri (mencetak uang)

Aturan ini membuat para ilmuwan tidak boleh gila harta, tidak memanfaatkan ilmunya untuk keuntungan sendiri. Jadi sejak zaman kerajaan dahulu kala, yang dianggap bisa menggandakan uang itu kimiawan. Ini sangat logis karena kimiawan memiliki pengetahuan yang cukup tentang logam dan penyepuhannya. 

Pemurnian logam baik emas perak dan tembaga merupakan bidang penelitian para kimiawan. Oleh karenanya akan sangat logis jika menganggap kimiawan mampu menggandakan uang. Tentu saja ini bukan benar-benar menggandakan, tetap harus ada bahan baku-nya, bukan hal-hal yang gaib, tetapi sains, terukur dan memiliki metode ilmiah. 

Perkembangan Uang Modern

Peranan uang sebagai alat tukar, kemudian memang belum bisa digantikan. Uang telah berkembang dari logam yang mudah diimitasi menjadi uang kertas yang sangat sulit diimitasi. Tentu saja keduanya memiliki kelebihan masing-masing. 

Uang logam memiliki nilai interinsik, yaitu nilai dari bahannya berupa logam berharga. Tetapi uang logam ini mudah sekali palsukan. Tetapi bagusnya ialah, walaupun mudah dipalsukan tetapi bahan baku dari uang logam tetap saja sulit diperoleh, oleh karenanya memalsukan uang logam ialah tindakan bodoh. 

Bahkan terkadang nilai interinsik dari uang logam bisa lebih berharga daripada nilai nominalnya. Salah satu contoh yang paling sederhana ialah kasus peleburan uang logam untuk kerajinan kuningan. Ini terjadi di era-era tahun 2000an dimana masih banyak sekali uang receh kuningan (100an, 500an). Banyak pengrajin kuningan akhirnya mengumpulkan uang receh dan meleburnya menjadi bahan baku kerajinan kuningan. Cerdas bukan? XD

Sedangkan di sisi lain uang kertas tidak memiliki nilai interinsik pada bahan bakunya, tetapi memiliki nilai nominal yang lebih besar dari uang logam. Karena nilai nominalnya bisa jauh lebih berharga dibandingkan nilai bahan bakunya, maka di masa lalu banyak sekali orang yang memalsukan uang kertas. 

Uang kertas yang sekarang ini pada umumnya terbuat dari campuran linen dan kapas, penggunaan campuran dua material ini membuat uang lebih kuat dan tahan terhadap kerusakan. Test standard yang digunakan untuk menguji daya tahan uang ialah menggunakan mesin cuci dan detergent. Test ini sederhana namun sangat efektif, uang yang kuat harus mampu bertahan tidak luntur dan sobek ketika tercuci di mesin cuci. 

Untuk mengamankan atau memberikan identitas asli dari uang digunanakan pita khusus yang mampu merespon sinar ultraviolet, kemudian digunakan juga tinta khusus yang dapat berubah warna dan yang terakhir ialah penggunaan tinta khusus yang tidak dapat dilihat dan hanya akan merespon sinar infra merah pada panjang gelombang yang spesifik. 

Melihat begitu kompleksnya pembuatan  uang ini, kalian pasti sudah bisa membayangkan, siapakah yang ada dibalik desain uang kertas yang kalian pegang sekarang?

Thanks for reading! 

1 comments:

Sekarang bukan cuma kimiawan, penerbit juga bisa menggandakan uang. Jadi, harus disumpah juga? #ehh

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top