Pendakian Gunung Fuji Jalur Yoshida (Kawaguchiko) - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Pendakian Gunung Fuji Jalur Yoshida (Kawaguchiko)


Yeah! Sebenarnya pendakian gunung fuji ini nggak pernah terlintas di pikiranku. Maksudku, aku suka jalan-jalan tapi bukan pendaki gunung dan terobsesi untuk menginjakkan kaki di dataran tertinggi. Kalau bicara obsesi tentang gunung, aku lebih terobsesi untuk menikmati sunrise di gunung (manapun, pendek sekalipun gak papa) dan sunset di pantai dalam satu hari. Artinya aku mau mengikuti siklus gerak matahari selama sehari, sampai dia turun tertutup lautan. Tapi entah kapan bisa aku lakukan. Eh.. Oke, balik lagi ke cerita mendaki Fuji!


Rencana Pendakian Gunung Fuji

Oke. Berawal dari Mas Acing senior PPI-Okayama yang mengajak untuk mendaki Fuji-san, akhirnya aku ikutan saja, karena memang saat itu diajak ramai-ramai agar biaya bisa lebih irit. Ya kalian tau sendiri kalau udah dengar kata "irit", murah", "hemat" dan "gratis", mahasiswa kasta sudra seperti aku ini pasti langsung terhipnotis. Udah seperti serangga malam melihat cahaya, langsung menyambar. Aku langsung oke dan sepakat untuk berangkat. 

Akhirnya diskusi dilanjutkan di group Line. Karena aku belum pernah mendaki gunung sama sekali, aku benar-benar nggak tahu informasi penting apa yang harus aku punya. Untungnya ada Mas Acing dan Mappe yang punya pengalaman mendaki gunung ketika mahasiswa dulu, dari mereka semua informasi dibagikan di Line. Mas Acing yang sudah lama di Jepang memimpin tim dan memilih Pendakian Gunung Fuji Jalur Yoshida yang melalui stasiun Kawaguchiko.

Banyak yang bilang kalau mendaki gunung fuji perlu latihan, persiapan fisik dan kesiapan mental. Aku kan enggak paham, jadi di pikiranku pokoknya kalau Mas Acing dan Mappe bergerak, aku tinggal ikutin. Gitu aja. Kemudian dari perlengkapan, aku pinjam aja ke teman-teman. Tas aku pinjam ke Mappe sedangkan senter kepala aku pinjam Puteri. Selebihnya sih barang-barang biasa untuk travelling. 

Awalnya yang berencana gabung dalam tim Mendaki Gunung Fuji ada lima orang, tetapi pada hari H dua orang mengundurkan diri dan sisanya ialah Aku, Mas Acing dan Mappe. Tentu saja dari ketiganya aku adalah Si amatir dan merepotkan. XD

18 Kippu Okayama-Kawaguchiko

Pertama perjalanan dari Okayama menuju Kawaguchiko kami tempuh dengan menggunakan tiket kereta berjenis 18kippu (JyuHachiKippu). Kalau berada di Jepang kalian harus tahu tentang  Ultra Sudra Level Ticket ini, dengan tiket ini kita hanya bisa mengakses kereta api JR biasa dan local train. Tapi sisi baiknya adalah harga tiket ini sekitar ¥12.000 untuk lima tiket yang bisa digunakan dua orang atau lebih. Keren kan? Perjalanan dari Okayama menuju Kawaguchiko ditempuh dalam waktu sekitar 13 jam. Cukup melelahkan walaupun kenyataanya kami hanya tidur di kereta. Oh ya, dalam perjalanan ini Mas Acing membawa seluruh anggota keluarganya, jadi kami ditemani oleh dua orang bocah yang lucu, sangat mewarnai perjalanan ini.  Foto perjalanan di kereta:


Penginapan K's House

Setelah itu kami berjalan ke penginapan K's House yang telah dipesan oleh Mas Acing. Harganya lumayan miring, hanya sekitar ¥3.300/malam. Penginapan ini jenisnya share-house. Jadi sebenarnya di pengingapan ini kita bisa masak pakai peralatan dapur yang udah disiapkan, dengan begitu akan lebih irit, tapi lokasi penginapan jauh sekali dari toko sembakau, jadi  kami lebih memilih makan di kombini (convinience store macam Alvamart). Beberapa foto di penginapan:



Hoax level 999

Danau Kawaguchi

Pagi hari kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Danau Kawaguchi (河口湖). Rencana perjalanan kami ialah mendaki gunung Fuji pada sore hari, jam 5, jadi dari pagi hingga siang kami akan berjalan-jalan. Di Danau Kawaguchi ini Mas Acing membawa keluarganya jalan-jalan menikmati danau, sedangkan aku dan Mappe terobsesi memotret gambar bagus.

Ohh.. Ya, Mappe ini sudah lama berkecimpung dalam dunia fotografi,  bahkan sudah menang beberapa kontes foto, jadi bisa dibilang fotografer handal. Jadi aku beruntung banget, udah ada pendaki berpengalaman, dan fotografer handal, jatahku cuma berpose aja biar dapa foto bagus. Ini beberapa foto keren yang kami dapat:




Sponsored by Lawson

Setelah di sekitar danau selama satu jam lebih, kami memutuskan untuk istirahat menunggu jam 4 sore untuk persiapan pendakian gunung fuji jalur yoshida. Mas Acing sekeluarga kembali ke penginapan, sedangkan aku dan Mappe nggak bisa lagi beristirahat di penginapan karena hanya bayar penginapan untuk satu malam.  Jadi selanjutnya kami nongkrong (ngegembel) di depan Lawson (convinience store). Ini melengkapi status sebagai traveller level sudra. Beberapa kreativitas yang terekam kamera:

Sponspored by Lawson
Jam lima sore kami sudah siap di stasiun Kawaguchiko, menunggu bus untuk menuju ke garis start pendakian. Di sini kami bertemu dengan cewek Australia yang juga akan mendaki, dia bilang  gugup karena ini akan jadi pendakian pertamanya.  Saat itu juga, Mas Acing tanya ke aku;
"Kamu pernah mendaki sebelumnya Fuzh?"
"Ini juga pendakian pertama saya Mas" Aku nggak menghitung pendakian di Bromo.
"Ada penyakit pernafasan Fuzh?"
"Nggak ada sih" Aku jawab dengan yakin nggak akan ada masalah.
Kemudian kami naik bus, kebetulan saat itu aku sempat ngombrol panjang lebar dengan orang irlandia yang duduk di sebelahku. Kami ngombrolin tentang kehidupan di Irlandia yang cukup menarik. Aku bahkan nggak sadar kalau bus sudah sampai di lokasi.

Nah di start awal ini aku sangat was-was dan khawatir. Langit-nya mendung gelap soalnya, jadi ada kemungkinan hujan, atau mendung terus. Aku sih nggak ada masalah kalau hujan, yang aku paling takutkan itu kalau setelah sampai di puncak kemudian mendung dan kami tidak bisa melihat sunrise. Soalnya itu pengalamanku dulu waktu mendaki Bromo.

Mulai Pendakian Gunung Fuji

Sebelum mendaki kami akan sholat Magrib jamak Isya', ada yang lucu disini, sebelum kami tiba, kami melihat ada rombongan lain yang sholat, nah.. Rombongan ini kiblat-nya itu berlawanan dengan yang aku cek pakai kompas HP-ku. Kemudian setelah mereka selesai sholat, gantian kami yang sholat, beberapa dari mereka sadar dan bilang "Wahh.. Iya.. kita tadi kok salah yah arah kiblatnya?". "Yah.. Sudah terlanjur, Allah ngerti kok kalau kita nggak tahu" jawab temannya. Kebetulan itu dalam bahasa Indonesia. Aku pribadi nggak ngerti Fiqh tentang hal ini. Hanya saja ini kasus yang menarik untuk diceritakan. :)

Persiapan selanjutnya sebelum melangkah ke pendakian gunung fuji ialah membuka bekal makanan yang disiapkan Mbak Mila, istrinya Mas Acing. Bekal makanan isinya lemper! Karena Mas Acing dari Makassar maka disebutnya gogos! Gogos goes to Fuji! XD
Setelah perut penuh, stamina oke, ibadah komplit, Bismillah.. Kami lakukan pendakian. Jalur Yoshida ini rutenya seperti ini:
Jadi di awal pendakian, jalurnya sangat landai, hampir tidak terasa ada tanjakan. Tapi anehnya baru berjalan beberapa menit dari start awal ini, aku udah kecapean. Bahkan di start awal ini aku sudah merasa "Waduh.. Bisa nggak sampai puncak nihh kalau begini", tapi seperti prinsip di awal, asalkan Mas Acing dan Mappe bergerak aku ikutin.

Tak berapa lama setelah melewati stasiun ke-6, senter Mas Acing mulai meredup dan hampir padam, masalahnya senter yang dia bawa tidak ada batre cadangannya. Jadi karena senterku yang paling terang, maka aku ambil posisi di tengah, jadi semuanya bisa dapat cahaya senter.
Stasiun ke 7 Gunung Fuji
Pada tanjakan ke-8 barulah terlihat perbedaan kecepatan menanjak, Mappe melaju duluan karena tidak bisa berjalan lambat, sedangkan aku berjalan santai mengikuti Mas Acing dan menyenterin jalannya. Jauh beda dari perkiraanku, ternyata mudah sekali melalui tanjakan di Gunung Fuji ini. Aku malah merasa lebih capek ketika medannya landai seperti sebelumnya.

Medan pendakian gunung fuji ini berupa pasir, jadi aku sendiri memutuskan kalau menginjak batu adalah solusi terbaik. Sepanjang pendakian aku selalu menginjak batu, resiko dari menginjak batu ini ialah jika ternyata batu-nya tidak cukup kokoh pada posisi-nya, kita bisa terjatuh, tapi keuntungannya ialah pijakan kaki bisa mantap jadinya kita bisa lebih cepat jalannya. Trik lainnya ialah ketika menghadapi tanjakan yang sangat miring, aku langsung merayap ke atas, jadi menggunakan tangan dan kaki untuk naik. Sejauh yang aku lihat trik ini sangat sukses buatku, soalnya aku beberapa kali naik melewati beberapa rombongan. Bahkan aku sempat naik-turun karena terpisah dari Mas Acing dan Mappe.

Banyak yang bilang kalau angin, badai dan hujan di puncak Gunung Fuji ini sangat mengerikan. Bahkan banyak yang gagal mencapai puncak gunung karena memang sedang ada badai. Untungnya di stasiun ke-8 kekhawatiranku kalau bakalan mendung, badai ataupun hujan udah hilang. Langit di stasiun ke-8 sangat cerah. Bahkan aku sempat melihat beberapa bintang jatuh. Keren banget!

Baca Juga: Melihat Kembang Api di Jepang

Setelah sampai di puncak, aku langsung menuju ke toilet, dan antri di puncak ini sangat panjang. Sementara aku antri toilet, Mappe sudah keliling mencari posisi bagus untuk memotret sunrise. Mas Acing beberapa menit kemudian berbaris juga dibelakangku untuk ke toilet.

Setelah dari toilet aku langsung menuju ke spot yang didapat Mappe, spotnya emang bagus sih ada semacam gapura gitu. Keren lahh.. Masih ada sekitar satu setengah jam sebelum sunrise, aku memutuskan untuk tidur walaupun kondisinya sangat dingin. Aku tidur sekitar 45 menit, setelah itu bangun dan sholat shubuh berjamaah. Selesai sholat shubuh kami sudah siap untuk mengambil gambar terbaik sunrise di gunung Fuji.

Hanphoneku hanya berhasil mengambil dua gambar kemudian batrenya mati total. Temperatur yang sangat dingin membuat batre HP cepat sekali habis, ini sudah pernah terjadi sebelumnya ketika aku kemah di pegunungan daerah Malang. Jadi aku langsung maklum. Ini foto yang berhasil aku ambil:

IG: @huda.tnt

Setelah badan terasa hangat, dan puas foto-foto, kami berdiam di atas, hanya sekedar menunggu satu orang bergerak untuk turun. Dan Mappe yang mulai bergerak turun, aku mengikuti disusul oleh Mas Acing. Ini beberapa foto di puncak yang diambil dari kamera Mappe:
Perjalanan turun dari Gunung Fuji ini adalah momen paling tidak menarik buatku. Perjalanan turun ini dibuat rute zig-zag yang landai. Mungkin ini setting yang bagus buat semua orang jadi bisa dengan santai menyusuri rute turun. Tapi nggak tahu sepatuku yang nggak pas atau emang cara jalanku yang salah, kakiku sakit banget pas dibawa turun ini. Bagian jari telunjukku terkelupas kulitnya karena tergesek permukaan sepatu. Karena udah sakit banget, akhirnya aku putuskan untuk turun lebih cepat, sehingga lekas menyudahi penderitaan ini.

Alhamdulillah.. Akhirnya pendakian gunung fuji jalur yoshida selama 13 jam selesai juga.. Thanks banget buat Mas Acing sekeluarga yang sudah mengajak aku gabung mendaki Gunung Fuji. Sebuah pengalaman luar biasa. Thanks Mappe foto-foto-nya, dan Thanks buat Lawson sudah menyediakan toilet dan tempat istirahat gratisan.

"Terkadang jalan yang begitu terjal dan mengerikan membuatmu tertantang dan bergerak lebih cepat, sedangkan jalanan yang landai dan nyaman membuatmu lelah dalam kebosanan" 

Thanks sudah baca.. Silahkan share kalau ini menarik... Selanjutnya aku akan berbagi pengalaman Summer Camp Bersama Anak-Anak Kecil di Jepang.

Picture by: @mappretz

2 comments

Envyyyy!!!! Lucky you deh tnpa badai, hujan, mendung.. tp yg salut d jepang santai aja yah kalo solat dtmpt umum..

I am.. Di sini selama tidak mengganggu orang lain, mo jungkir balik salto belakang dengan kaki di atas juga silahkan.. :P

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top