Perhitungan Jari-Jari Bumi Oleh Al-Biruni - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Perhitungan Jari-Jari Bumi Oleh Al-Biruni


Salah satu ilmuwan paling melegenda dalam sejarah sains ialah Al-Biruni, sebagai matematikawan dan ahli kebumian namanya sangat dikenal di kalangan saintis baik itu saintis zaman dahulu maupun saintis modern. Dalam pembahasan mengenai Flat Earth, ada sebuah klaim bahwa Al-Biruni berpendapat bahwa bumi adalah datar, dan dia menciptakan Azimuthal Equidistance Projection (AEP).

Al Biruni dan Flat Earth Theory

Untuk yang belum paham mengenai AEP pasti mengira kalau Al-Biruni yang membuat dan merumuskan peta bumi datar, padahal kalau sudah memahami mengenai kenapa dibuatnya AEP, maka akan tahu bahwa justeru Al-Biruni menyadari kalau bumi itu bulat, itulah alasan mendasar adanya AEP.

Pendapat bahwasanyya Al-Biruni sepakat dengan flat earth theory juga akan terbantahkan dengan sebuah fakta sederhana, fakta ini adalah bahwa pada masa hidupnya Al-Biruni telah melakukan pengukuran jari-jari bumi dengan metode dan instrument (pengukuran sudut) yang ia kembangkan sendiri. Perhitungannya ini menjadi salah satu yang paling terkenal dan membuatnya diakui dunia.

Sains Muslim Masa Kekhalifahan

Al-Biruni merupakan saintis muslim yang hidup di zaman kejayaan Islam. Pada masa kejayaan islam dahulu, para alim ulama’ dan penguasa sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ini tidak terbatas dan terikat pada ilmu pengetahuan agama Islam saja namun juga ilmu-ilmu sains dan kebudayaan.

Jika membaca tentang perkembangan sains pada masa kejayaan Islam maka akan menemukan bahwa Ilmuwan-ilmuwan terdahulu belajar termasuk Al-Biruni bertugas mempelajari dan menerjemahkan buku-buku dari Yunani kuno, India dan China. Artinya bahawa ilmuwan muslim masa lalu belajar dan mengadaptasi sains dari luar, dari negri-negri lain, negri nonmuslim sekalipun.

Itulah yang menyebabkan perpustakaan-perpustakaan kekhalifahan sudah terang oleh lampu ketika eropa masih gelap, itu pula yang menyebabkan teknik-teknik pengobatan dan medis di kekhalifahan telah sangat maju sementara di eropa kebersihan saja masih belum terjamin.

Perhitungan Diameter Bumi dari Al Biruni 

Al Biruni pada masa itu sudah menyadari bahwa Bumi adalah bulat. Fakta ini diperoleh dari pemikiran Yunani, salah satunya sudah aku jelaskan dalam artikel sebelumnya dari Perhitungan Keliling Bumi Eratoshenes. Bukti mendasar dari pendapat Bumi bulat ialah bayangan bumi pada peristiwa gerhana bulan yang jelas-jeals berbentuk bulat.

Al-Biruni pada masa itu sudah sangat yakin bahwa bumi berbentuk bulat, oleh karena itu dia melakukan pengukuran diameter bumi. Berikut ini cara Al-Biruni menghitung diameter bumi dengan menggunakan ilmu trigonometri:
Keterangan:
EL= Ketinggian dari bukit
dari gambar diperoleh:

Setelah menghitung LM (atau ML), kemudian sudut BET dapat diukur menggunakan instrument ciptaan Al Biruni, sehingga kemudian kita bisa menghitung sudut TEO dan LOT berdasarkan aturan sudut dalam segitiga siku-siku. Setelah itu diperoleh:
Dengan memasukkan nilai ET, sudut TEO dan sudut LOT akan diperoleh nilai dari OT dalam hal ini merupakan jari-jari bumi.

Perhitungan yang dilakukan oleh Al-Biruni ini menggunakan satuan bangsa Arab saat itu yang setara dengan 1.225947 mil. Perhitungan yang dihasilkan oleh Al-Biruni mendapatkan angka jari-jari bumi sebesar 3847.8 mil atau 6192.4338432 km. Nilai ini jika dibandingkan dengna pengukuran modern hanya meleset sebesar 2%. Sebuah pencapaian yang luar biasa dari ilmuwan muslim masa itu.

Pada saat Al-Biruni melakukan perhitungan ini, sebenarnya sudah ada perhitungan jari-jari bumi dari ilmuwan Yunani sebelumnya yaitu Eratoshenes yang memberikan hasil 6.406,5 km. Artinya ketika ia mendapatkan angka 6192.43384 km, maka ia bisa mengkonfirmasi kalau hasil tersebut telah mendekati hasil sebenarnya karena pengukuran sebelumnya memberikan hasil yang hampir sama.

Puzzle yang Belum Diselesaikan Al-Biruni 

Sudah terbukti nyata dari karya-karyanya kalau sorang ilmuwan muslim AL-Biruni mengakui kalau bumi itu bulat bahkan dia sendiri telah melakukan perhitungan matematis jari-jari bumi.

Artinya klaim Flat Earth bahwa Al-Biruni merupakan ilmuwan muslim yang mendukung teori flat earth tidak berdasar.

Hal yang masih belum bisa dibuktikan oleh Al-Biruni pada masa itu adalah teori Geosentris atau Heliosentris. Teori Geosentris dan Heliosentris sebenarnya merupakan teori yang sudah lama ada. Tetapi pada masa itu Al-Biruni masih bingung karena jika Heliosentris benar, maka ini akan berlawanan dengan ayat di Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Matahari beredar mengikuti garis edarnya. Tetapi memang hingga masa kejayaan ilmuwan muslim berakhir belum ada pembuktian ilmiah mengenai teori Heliosentris maupun Geosentris.

Teori Heliosentris baru bisa dibuktikan ketika Galileo dengan teropong bintangnya melakukan pengamatan tentang bulan-bulan milik Jupiter. Dari hasil pengamatannya, diketahui bahwa planet-planet mengelilingi Matahari.

Apakah menurut teori Heliosentris dan sains modern Matahari itu diam? Ternyata tidak, sains modern mengetahui bahwa matahari bergerak melintasi garis edarnya. Pergerakan matahari ini mengelilingi Milky Way. Jadi pada akhirnya sains dan AL-Qur’an menyatakan kebenaran yang sama bahwa matahari beredar mengikuti garis edarnya.

Begitulah pola perkembangan sains, teori-teori sains mengalami banyak sekali pertanyaan dan pengujian, jika teori tersebut gagal menjelaskan suatu kejadian, maka teori ini akan diangap runtuh dan tergantikan oleh teori baru yang lebih sesuai sains modern.

Sumber:

  1. https://arxiv.org/pdf/1312.7288.pdf

2 comments

Good job kak. Saya juga mencari mengenai Al Biruni yang menyatakan bumi datar, tapi belum ketemu. Atau bagi FE bisa menunjukkan sumber nya?

Dan kak kalo bisa bahas Martianus Capella. Saya cari, beliau ini bukan pencetus heliosentris. Tapi memodifikasi teori geosentris menjadi geo-heliosentris.

Jadi tuduhan bahwa Martianus sebagai penyembah matahari sehingga mencetuskan heliosentris ini juga tidak berdasar.

Bahkan Martianus masih menganut geosentris, hanya memodifikasi model tata surya nya.

Kalau di Al-Qur'an sudah dijelaskan bahwa mataharinya yang bergerak udah ga usah dibantah lagi, itu bukan pemahaman yang kuno tapi sudah kepastian.

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top