Apa Sains adalah Menghafal? - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Apa Sains adalah Menghafal?


Entahlah kenapa tiba-tiba aku kepikiran untuk menuliskan tentang ini. Judul tulisan ini sebenarnya adalah pesan yang sudah sering sekali aku dengar. Aku bahkan sudah dijejali dengan kalimat "Sains itu bukan hapalan" sejak duduk di bangku SMA, walaupun pada prakteknya tetap  harus menghafalkan tabel periodik unsur. XD
Sains bukanlah hafalan, itu yang aku pahami sejak dahulu. Tetapi ketika kita masuk ke dalam pelajaran sains, ternyata isinya semua adalah hapalan. Belajar matematika berarti hafalan rumus-rumus, biologi berarti harus menghafalkan siklus Kreb, kimia berarti menghafalkan nama-nama unsur dan fisika adalah hukum Newton, Kepler, dan Hook. Geologi butuh hapalan jenis-jenis mineral, lingkungan berarti hapalan siklus karbon, dan kedokteran berarti hapalan fungsi organ tubuh.

Akhirnya kalimat "Sains bukanlah hafalan!" hanyalah dongeng dan bualan belaka, karena memang kita harus menghapalkannya.

Konsep Matematika

Pemikiran akhirnya mengingatkan aku ke hal-hal kecil yang kualami sendiri sejak di bangku sekolah. Kenyataanya aku sendiri memang nggak terlalu bisa menghafal, ini termasuk urusan hafalan paling dasar seperti perkalian yang diwajibkan ketika SD.

Walaupun umi (read:ibu) dan abah (read: abah) adalah guru matematika, tapi anaknya yang satu ini memang gagal menghafalkan pekalian 1-10.

Buatku perkalian adalah sebuah konsep perhitungan, dan ketika aku paham konsep perkalian itu, maka sudah cukup. Aku bisa menyelesaikan semua permasalahan tentang perkalian seberapapun rumitnya itu asalkan diberi cukup waktu. Jadi jika ada soal perkalian ribuan, anak-anak yang hafal tabel perkalian akan bisa mengerjakannya dalam 1 menit, aku bisa-bisa menghabiskan waktu 5-6 menit untuk menyelesaikannya. Aku bisa menyelesaikannya, hanya saja karena nggak hafal tabel perkalian jadi lambat proses mengerjakannya.

Proses yang lambat itu kemudian aku abaikan, dan tidak pernah berusaha aku tingkatkan menjadi cepat, dengan alibi bahwa kalkulator akan bisa mengerjakan dengan cepat.

Kenyataannya, aku bisa menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMA, walaupun tidak hafal perkalian. Nilai matematika yang aku peroleh juga bukan pada predikat "sekedar asal lulus" tetapi cukup memuaskan, walaupun tidak juga "sangat wah".

Untuk matematika, memang hampir semua akan menyadari kalau konsep berfikir lebih penting dibandingkan hafalan. Jadi kalau selama ini cara menghitung luas segitiga yang kita pelajari adalah 1/2.a.t, buatku dibandingkan menghafalkan rumusnya, akan lebih penting lagi memahami "kenapa rumus luas segitiga itu 1/2 a.t?". Karena menurutku di situlah ilmu matematikanya. Pun sama halnya dengan luas persegi, trapesium dan lingkaran.

Lebih dari Sekedar Istilah

Beberapa bulan yang lalu, ketika ramainya "Teori Bumi Datar" benar-benar membuat aku sadar kalau selama ini banyak sekali yang gagal memahami bahwa sains adalah sebuah kerangka berpikir, bukan sekedar hafalan.

Hingga saat ini, pemahaman bahwasannya bumi adalah bulat mungkin hanya hafalan semata. Guru-guru memberikan beberapa bukti bahwa bumi itu bulat juga sebagai hafalan semata, bukan sebuah konsep yang pakem dan masuk akal.

Pun dalam videonya Flat Earth mengatakan bahwa gravitasi adalah HOAX, dan banyak sekali yang menyakini demikian setelah menonton videonya. Sementara hukum-hukum tentang gerak dan gravitasi dalam Newton Law of Motion adalah materi fisika SMA. Artinya apa? Mereka yang mengatakan gravitasi adalah HOAX sama sekali tidak memahami konsep dasar dari gravitasi. Mungkin mereka hafal bahwasannya gravitasi bumi adalah 9.8 m/s^2, rumus gerak benda yang bergerak ialah 1/2.a.t^2, dan berbagai rumus fisika Newton, tetapi pada kenyataanya tidak paham sama sekali konsep dasar dari gravitasi, pembuktian gravitasi dan persyaratan adanya gaya gravitasi.

Dalam sains, cara kerja merupakan hal yang jauh lebih penting daripada perkara hafalan. Jadi bagaimana cara mengalikan dua bilangan?, itu lebih penting daripada hapalan perkalian semua angka. Pun sama memahami konsep cara menghitung luasan suatu bangun datar, itu  lebih penting daripada menghafalkan rumus untuk semua bangun datar.

Jika kita tarik dalam sains fisika maka aku bisa bilang guru harus menerangkan lebih dalam tentang konsep gravitasi. Suatu saat jika ada yang bertanya kenapa benda jatuh ke tanah? Jangan lagi puas pada jawaban "karena gravitasi", gravitasi hanyalah sebuah istilah, tanyakan lebih lanjut kenapa ada gravitasi? itu poin pentingnya. Ketika konsep gravitasi dipahami dengan matang, maka bagiamanapun peristiwa benda yang jatuh ke tanah tidak lagi dikaitkan pada hukum Archimedes ataupun energi elektromagnetik melainkan hukum gravitasi Newton.

Sama hal-nya dengan pertanyaan kenapa kereta, sepeda motor dan manusia bisa bergerak? jawaban "karena memiliki energi" adalah sebuah jawaban yang sia-sia. Non scientific at all. Dalam sebuah proses bergeraknya kereta api menggunakan sistem gerak, dari rel, roda besi, gir, hingga proses pembangkit energi listriknya, seluruh rangkaian dalam kereta api inilah sains. Sedangkan pada sepeda motor, cerita dari bensin yang masuk ke tangki bensinnya, terjadi pembakaran yang dipicu dari starter kemudian menggerakkan piston, lalu gaya gerak dari piston inilah yang dikonversi sebagai gaya gerak rotasi pada ban motor, itulah yang disebut dengan sains. Pun sama hal-nya bagaimana manusia bisa bergerak merupakan proses yang sangat rumit dan hanya dapat dijelaskan dengan pemahaman sains yang memadai.

Dalam bidang biologi, salah satu pokok bahasan yang penting ialah tentang siklus kreb. Ketika SMA pasti kita diminta menghafalkan siklus Kreb, tapi kemudian untuk apa hafalan siklus Kreb tersebut? mungkin ini takkan terjawab oleh guru SMA-mu. Buatku mengerti "kenapa siklus Kreb itu penting?" dan "apa yang coba dijelaskan oleh siklus tersebut?" akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan menghafalkan siklus kreb itu sendiri. Siklus Kreb merupakan penjelasan paling masuk akal tentang  bagaimana sel memperoleh energinya dari makanan yang kita makan dan oksigen yang kita hirup. Toh untuk urusan siklus kreb sendiri kita bisa membukanya di buku cetak ataupun google. :)

Sains Sangat Menyiksa!

Pada suatu ketika Michio Kaku pernah mengatakan bahwa anaknya mengeluh tentang tugas sains di sekolahnya. Ketika di sekolah, anak-anak disuruh menghafalkan jenis-jenis mineral dan batuan, akhirnya si anak mengeluh dan mengatakan "Sains itu sangat menyiksa, kenapa ada orang di dunia ini yang mau menjadi saintis?". Padahal ayah Si anak adalah seorang saintis. Michio Kaku merasa sedih dan terluka atas perkataan Sang Anak, akhirnya ia mengatakan lupakan saja hafalannya, mari kita lihat proses bagaimana mineral-mineral ini terbentuk.

Aku bisa bilang, itulah sisi menarik dari sains. Bukan pada hafalannya tetapi pada konsepnya. Pada dasarnya sains sangat erat kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan bagiamana? dan kenapa? dibandingkan dengan pertanyaan apa? dan berapa?

Nyawa dari Sains

Buatku sendiri nyawa dari sains adalah pertanyaan dan rasa penasaran. Diakui oleh Neil De Grease Tyson, seorang saintis asal Amerika, "Ketika kamu kehilangan rasa penasaran, maka aku tidak lagi membutuhkanmu di laboraturiumku!"

Maka sudah saatnya belajar sains harus lebih dari sekedar hafalan belaka. Sains akan memuaskan rasa penasaranmu! Dan akan selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang alam.

Kesimpulan

Sains bukanlah hafalan semata, tetapi pola pikir dan sebuah cara kerja. Dalam konteks sains menyelesaikan pertanyaan "bagaimana?" dan "mengapa?" adalah hal yang lebih mendasar dibandingkan "apa" dan "berapa?".  Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwasannya menghafal memang akan mempermudah kita dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sain. Jadi pokok penting dalam sains bukanlah menghafal namun memahami konsep dibalik fakta dan data yang ada.

Thanks for reading guys! Share biar temen kamu tahu kalau bacaanmu bermanfaat! :D

3 comments

hm.. tulisannya lumayan mencerahkan bagi (saya) guru MTK tingkat sekolah dasar yang sedang galau karena anak-anaknya menjawab soal perkalian masih pake "barisan pagar" yang dilipatgandakan, atau mencoret pagar untuk membaginya, bukan dengan hapalan perkalian 1-10.

Thanks.. ^_^
Semoga anak2nya segera hapal perkalian, biar memudahkan bu guru.. Jangan seperti saya yg gagal hapalan.. XD

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top