Media Kehilangan Kompas - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Media Kehilangan Kompas


Minggu pertama puasa, Indonesia dihebohkan oleh kasus razia satpol PP yang menangkap basah ibu-ibu penjual warung yang nekat berjualan di bulan Ramadhan. Kasus ini bukan sesuatu yang spesial, cuma pelanggaran biasa. Cuma warung kecil yang nekat melanggar perda, tidak ada bedanya dengan penertiban pedagang kaki lima yang merusak keindahan kota.
pembodohan media

Tapi ditangan media abal-abal, ini dijadikan sinetron beberapa episode. Diambil sudut pandang dimana seolah-olah ummat islam yang mayoritas sedang menindas orang-orang yang tidak berpuasa. Sinetron dimana peraturan daerah yang membuat orang islam(yang mayoritas) merasa nyaman dibenturkan dengan isu kemanusiaan. Dimintailah pendapat dari orang-orang yang nggak kompeten, nggak punya kompetensi di bidang hukum, islam ataupun perundang-undangan.

Melihat tingkah media yang amburadul ini, tanggapan dari masyarakat beragam. Banyak sekali yang ingin ujuk gigi bahwa mereka yang paling toleran, mereka yang paling baik, padahal malah sedang merusak kemaslahatan ummat islam yang mayoritas. Bahkan yang sering sekali berkutbah tentang kemaslahatan ummat sekarang berbalik menyerang peraturan yang membuat ummat maslahat ini.

Persoalannya ialah karena penggiringan opini di media.

Karena kejadian ini, aku jadi teringat sebuah buku yang pernah aku baca. Itu sekitar tahun 2014, aku lagi di rumah (di kalimantan) kemudian menemukan buku berjudul "Mencetak Kader" yang berisi tentang perjalanan hidup Ustadz Abdullah Said. Pendiri Pesantren Hidayatullah.
mencetak kader

Buku "Mencetak Kader" ini berisi perjuangan awal beliau dalam membangun Pesantren Hidayatullah. Di awal-awal pembentukannya, beliau beserta para pejuang islam lainnya mendapat banyak sekali cobaan, ujian dan kesulitan.

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa beliau adalah orang yang sangat "haus" ilmu. Setiap kali ada perjalanan ke pulau Jawa, yang paling ingin ia singgahi ialah toko buku, dan selalu belanja buku. Beliau membaca buku-buku baik itu tentang keislaman, pengetahuan umum dan psikologi. Beliau tak hanya mengoleksi buku-buku dari dalam negeri namun juga buku-buku luar negeri.

Dari membaca banyak buku inilah beluau memahami bahwa perubahan besar bisa dilakukan jika kita memiliki media. Karena media adalah alat utama dalam memperoleh dukungan masyarakat. Bayangkan jika setiap orang yang berpendidikan dan gemar membaca mendukung perjuangan Islam! Pastilah makmur ummat islam di Indonesia ini. Itulah yang ada di pikiran beliau.

Kemudian pada datanglah fasa dimana Pesantren Hidayatullah mulai stabil. Dan saat mulai stabil itu, hal pertama yang ingin dibangun oleh Ustadz Abdullah Said ialah media Islam.

Dari buah pikiran Ustadz Abdullah Said inilah berdiri Majalah Hidayatullah. Majalah yang menaungi ummat Islam dari pembodohan dan perusakan moral bangsa. Dari awal berdirinya, Hidayatullah meliput kegiatan-kegiatan dan perkembangan islam di tanah air. Bahkan liputan rutinnya ialah tentang perjuangan da'i-da'i di pelosok negeri.

Jujur saja aku nggak benar-benar membaca tulisan di majalah Hidayatullah. Tetapi karena orang tuaku berlangganan Hidayatullah, maka ada tiga ulasan yang cukup sering kubaca di Hidayatullah: ulasan sains dan ulasan mengenai Islam di belahan bumi lain dan mengenai perjuangan para da'i di pelosok negeri.

Saat ini Hidayatullah telah merambah dunia online dengan Hidayatullah.com. Menurutku ini perkembangan yang luar biasa, belum lagi sudah ada app handphone-nya. Luar biasa kan?

Dan dari semuanya itu, yang paling luar biasa lagi ialah, bahwa Hidayatullah.com tidak menggunakan adsense di laman webnya. Iklan-iklan yang ditampilkan oleh Hidayatullah ialah iklan lansung, masih menggunakan metode yang sama seperti iklan pada majalah (hardcopy). Kalau berbicara dunia bisnis, sudah bisa dipastikan kalau keuntungan metode periklanan seperti ini pasti kurang menguntungkan, jika dibandingkan dengan penggunaan Google Adsense.

Kompas, detik, dan liputan6 menggunakan Google Adsense sebagai sumber pendapatan periklanannya. Yang paling menarik dari Google Adsense ialah, besarnya pendapatan akan sebanding dengan jumlah pembaca media tersebut secara langsung. Inilah yang mendorong media-media berusaha membuat pemberitaan yang "beda" sehingga banyak pengunjungnya. Yah, sekali lagi, pengunjung berarti uang.

Sedangkan sistem periklanan yang ada di Hidayatullah.com bisa kita lihat sendiri, didominasi oleh iklan tentang "Sedekah" dan iklan lainnya yang berhubungan dengan buku-buku, islam dan sunnah(obat-obatan herbal). Artinya iklan jenis ini memberikan pemasukan berdasarkan kontrak bisnis, bukan lagi berdasarkan jumlah pembaca secara langsung. Dengan begitu, Hidayatullah tidak perlu membuat berita palsu, karena mereka nggak perlu sebuah berita yang booming, mereka hanya perlu meningkatkan reputasinya perlahan dengan berita-berita dan ulasan yang berbobot.

Selain mengandalkan iklan, majalah Hidayatullah juga membuat bisnisnya sendiri dengan membuat online shop (store). Dua online store yang menjadi fokusnya ialah penjualan baju/ distro dan penjualan buku-buku islami.

Di akhir postingan ini aku cuma berharap bahwasannya masyarakat Indonesia bisa lebih bijak dalam melihat media. Walaupun setiap hari kita dijejali banyak berita di FB, ada baiknya untuk tetap selektif dan mengedepankan unsur logis dan pemikiran sebelum memutuskan untuk nge-share atau sepakat dengan suatu berita.

Thanks for reading.

6 comments

Bahkan media-media mainstream juga kehilangan kompas, mereka terjebak dalam industrialisasi...

Salam kenal Mas Huda. Rupanya sedang kuliah di Jepang?

Betul Mas, kita memang harus lebih bijak menghadapi media. Jangan sampai kita ikut menyebarkan hal yang tidak benar atau yang tidak baik.

inilah salah satu bahaya laten dari jendela maha besar bernama internet hehehe

Iya pak, sedang belajar sains di Jepang.. Salam kenal, senang sekali Abah Raka mau mampir... :)

Iya, kita nggak boleh lupa untuk terus terbiasa membuang sampah pada tempatnya. :)

Iya, kayaknya bukan lagi jendela dehh.. Jendela itu sempit jadi mudah menutup aksesnya, internet ini luas sekali, tak terbendung aksesnya.. XD

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top