Sains Indonesia - Sekarang ataukah Menunggu Perang? - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Sains Indonesia - Sekarang ataukah Menunggu Perang?


Sebuah tulisan singkat tentang sains dan Indonesia. Sekarang... Maksudku ketika mulai membaca ini, mungkin kalian belum melihat hubungan keduanya. Tapi segera, secepatnya, semoga saja aku bisa menuliskan hubungan keduanya. 

Kalau kalian penikmat, pengamat ataupun aktivis FB, maka kalian pasti sudah tahu kan kisah Ricky Elson? Iya Sang pembuat mobil listrik asli Indonesia itu, tak lama setelah kisah Ricky Elson, muncul kembali nama ilmuwan ternama Indonesia, Pak Warsito,  Seorang insinyur kimia, Sang empunya ECVT( Electrical Capacitance Volume Tomography) dan alat terapi kanker yang diciptakan beliau. Selain dua kasus terbaru tersebut, politisi bangsa ini juga telah mengecewakan dan menyia-nyiakan Bapak B. J. Habibi yang namanya begitu masyhur di Eropa dengan beragam paten pesawat terbang yang dimilikinya. 

Apakah negara kita memang sama sekali tidak butuh sains? Apa negara ini mungkin punya jutaan prioritas lainnya selain pengembangan sains dan teknologi? Atau mungkin kita sudah terlalu frustasi dan menyerah karena jauhnya pengembangan teknologi dan sains di negara lain?

Maaf aku sendiri nggak bisa menjawab. Tapi semoga bukan yang kedua alasannya. 

Sekitar satu bulan yang lalu aku menyelesaikan "Surely You Are Joking Mr. Feynman!" dari Richard (Dick) Feynman. Sebuah buku yang merupakan catatan pengalaman pribadinya. Dalam buku ini dijelaskan bahwa dulunya tidak semua orang di Amerika tahu tentang saintist. Tidak ada pekerjaan yang benar-benar tepat untuk seorang saintis. Walaupun saat itu engineer sangat populer dan dibutuhkan, tetapi saintis? siapa yang tahu apa yang dilakukan oleh saintis?

Dalam sebuah video mengenai biografi Einstein yang pernah aku tuliskan disini, juga sedikit banyak menggambarkan apa motivasi seorang saintis sekelas Einstein dan apa sebenarnya yang mampu dilakukan oleh para saintis. Dalam video ini diperlihatkan bahwa Einstein dipanggil ke Berlin (German) untuk sebuah alasan, membuat senjata perang. Walaupun saat itu ia menolaknya, tetapi di video ini juga diperkenalkan seorang saintis yang menjadi pahlawan perang, Haber, yang dengan ilmu kimia, ia telah membuat bom gas mematikan yang digunakan oleh tentara Jerman. 

Di bukunya, Feynman bercerita bahwa menjelang perang dunia kedua, saat khawatir akan kekuatan teknologi perang Jerman, Amerika mendadak membutuhkan banyak saintis. Seluruh kekuatan militer Amerika secara tiba-tiba memerlukan saintis dan engineer lebih banyak dari yang pernah ada  sebelumnya. Kemudian di masa-masa ini pula para politisi dan militer mengetahui (dan mengakui) atas apa yang bisa diperbuat oleh para saintis. 

Setelah Amerika dengan pengembangan sainsnya mampu membuat bom atom, mereka mengujinya dengan meledakkan Hiroshima. Masa-masa setelah meledaknya bom di Hiroshima tersebut ialah era kebangkitan sains dan teknologi di Jepang. Jepang fokus pada riset dan sains, memanggil para saintis dan engineer untuk membuat Shinkansen, mendirikan berbagai Industri perang dan menjualnya kepada Amerika saat perang berkecamuk di Korea. Dengan semangat kaizen Jepang melakukan perbaikan berkesinambungan dalam bidang sains karena menyadari ketertinggalannya atas Amerika. 

Jadi seperti pada judul awal. Setelah menyia-nyiakan dan membuang-buang bakat dan pengetahuan saintis-saintis hebat, engineer berpengalaman, apakah kita sedang menunggu perang untuk bisa menghargai sains dan teknologi? Apakah jika perang berkecamuk dan Indonesia diobrak-abrik oleh negra lain, baru kita akan sadar kalau negeri ini butuh teknologi dan sains paling mutakhir?

4 comments

Kalau saya lihat pemimpin Indonesia dari dulu lebih memilih menghindari perang, namun pas mau perang baru lumayan bangkit(konflik timor dan GAM), tapi sekarang mulai lesu lagi, saya berharap konflik di laut cina selatan memicu kebangkitan sains dan teknologi lagi, tapi entahlah pemimpin kita sekarang kayaknya gak doyan perang, hehe

Ya. Para pemimpin Indonesia tidak terlalu menghargai sains dan teknologi..
semoga para pemimpin bangsa sadar akan pentingnya sains dan teknologi sebelum terlambat...

Hahaha.. Itu sebenarnya kemungkinan terburuk sih Mas.. Saya juga gak mau kalau ada perang.. hehehe.. Cuma apa kita nggak mau belajar dan melihat kebangkitan dari negara lain.. :D

Iya Mbak.. Thanks yap udah mampir n baca.. Semoga saja Indonesia bisa lebih maju dan berkembang di berbagai lini.

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top