Budaya Antri di Jepang Sekilas Legenda dan Fakta - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Budaya Antri di Jepang Sekilas Legenda dan Fakta


Wihh.. Dua hari ini ninggalin blog lagi. Semoga saja para pembaca blog ini makin betah melihat tingkah admin blog yang tidak karuan. Kali ini aku datang dengan segenggam bahan tulisan seputar budaya antri di Jepang, materi ini kuperoleh saat perjalanan singkatku di Jepang dan perjalanan pendekku mengunjungi bandara di beberapa negara (cuman transit bandara sih.. wkwkwk)

Legenda Budaya Antri Jepang

Sekitar 13 tahun yang lalu saat aku SD, aku mendapat banyak cerita tentang Jepang dari guruku. Salah satu yang paling kuingat ialah tentara Jepang ialah yang paling kejam diantara banyak penjajah. Selain itu aku tidak pernah mendengar tentang negara Jepang kecuali pujian.

Salah satu yang akan terus dipuji, bahkan hingga aku SMA ialah budaya mengantri masyarakat Jepang. Setiap kali ada pembahasan mengenai budaya mengantri, maka Negara Jepang akan menjadi contoh mutlak untuk hal ini. Ini membuat aku kadang bertanya-tanya, apakah jika antriannya panjang banget mereka akan tetap berbaris?

Alhamdulillah... Dari sekian banyak mimpiku, salah satunya telah terkabul, yaitu pergi ke negeri sakura, Jepang. Aku bisa melihat langsung budaya yang berkembang di negeri sakura. Termasuk bukti nyata bahwasannya orang jepang suka mengantri dan kebetulan juga bisa melihat fakta bahwa orang jepang suka membaca. 

Fakta Budaya Antri di Jepang

budaya antri di jepang
budaya antri di jepang
Pada hari pertama aku pergi ke Jepang, aku langsung disuruh mengantri panjang. Itu adalah untuk pemeriksaan paspor dan visa perjalanan. Ini memakan waktu yang cukup panjang, tetapi aku tidak punya pilihan lain selain mengantri. Di barisan antrian ini, semuanya ialah orang asing yang akan masuk ke Negeri Sakura, dengan berbagai tujuannya. 

Sayangnya ketika mengantri ini, aku diapit oleh orang Indonesia, bukannya sombong sih, tetapi jujur saja aku lebih ingin pengalaman ngobrol banyak dengan bule-bule dari berbagai negara, praktek bahasa Inggrisku yang pas-pasan ini, dibandingkan harus berbicara pakai bahasa Nasional. Kalian sudha baca kan kalau aku pernah 12 jam di Jepang Without Indonesian

Selepas dari bandara, aku mengantri untuk kedua kalinya ketika mau masuk bus. Ini konyol menurutku. Dimana di Indonesia kalian mengantri hanya untuk masuk bus? Di Indonesia bahkan bus punya pintu depan dan belakang, kalau yang depan sesak kita lewat pintu belakang. Sedangkan di sini budayanya kita harus mengantri, berbaris (bahkan di suruh lurus oleh penjaganya). Aku berada di barisan paling depan karena memang setelah makan aku tidak ada kerjaan lagi di bandara, jadinya aku langsung saja menuju pemberhentian bus menuju Kota Okayama.

Disitu aku berfikir, oleh sebab apa naik bus aja perlu mengantri? Tetapi memang masuk akal juga kalau alasannya gini. Jika bus berkapasitas 60 orang, kemudian yang ingin naik bus ialah 80 orang, maka 20 orang harus menunggu bus berikutnya. Artinya, jika mengantri, maka 60 orang pertama akan naik lebih dulu dan 20 orang yang paling terlambat harus menunggu bus berikutnya, ini fair dan menyelesaikan banyak masalah. 

Bagaimana kalau tanpa mengantri (read: di Indonesia)? Bus berkapasitas 60 orang, yang ingin naik bus ialah 80 orang. Akan ada dua solusi, pertama 80 orang dipaksa naik dengan catatan 20 orang berdiri sepanjang perjalanan dan yang kedua ialah 60 orang naik dengan jalan berebutan masuk bus, dan yang 20 orang "salah elu nggak mau dorong-dorongan masuk pintu bus". :P

Pengalaman berikutnya seputar budaya mengantri di Jepang ialah ketika aku di minimarket. Ini adalah pengalaman yang biasa aja, seperti kalau di Indonesia kita masuk Alfamark yang banyak pengunjungnya dan mengantri untuk pembayaran. Sama persis, di Jepang kita juga harus mengantri. 

Pelayan Antrian

Mengantri-nya sama, kita harus berbaris di depan kasir, tetapi ada sedikit perbedaan pada kasirnya. Pernah nggak kalian merasa ada dua orang kasir atau pelayan yang secara kurang ajar dan nggak tau diri, melayani kita sambil mengobrol satu sama lainnya? Ini adalah kasir-kasir sialan yang selalu bikin aku kesel. Yap, Kesel banget!

Di Jepang, hampir semua petugas kasir, pelayan tiket dan semua jenis pekerja yang melayani antrian, tidak melakukan interaksi kecuali dengan customer(yang dapat giliran antrian). 

Di Jepang, orang-orang mau mengantri panjang dan berbaris rapi, karena melihat kinerja petugas loket dan kasir yang begitu giat melayani pengantri. Tidak ada model pekerja yang ngobrol ngalor ngidul ketika melayani pelanggan. Inilah yang menyebabkan orang-orang mau mengantri panjang dimanapun di Jepang. 
Secara Psikologi, gimana perasaanmu kalau lihat antrian panjang, tetapi pekerja loketnya kerja dengan sangat cepat tanpa istirahat, apalagi ngobrol? Pasti nyaman-nyaman aja kan? Itulah yang terjadi.
Jadi petugas loket di Indonesia jangan cuma teriak-teriak "budaya Antri di Indonesia ini buruk, cacat dan salah total" tetapi lirik juga kinerja kalian. Apakah kinerja kalian udah "worth to wait" atau masih seenaknya sendiri dan ngobrol sementara ada antrian panjang di depannya?
Aku rasa pemerintah Indonesia tidak perlu lagi teriak-teriak soal budaya mengantri masyarakat, lebih baik tingkatkan pelayanan antrian. Bisa jadi masyarakat kita tidak suka mengantri karena memang kinerja petugas loketnya yang nggak jelas. Mengantri panjang untuk penunggu loket yang ngobrol di telepon, ngobrol dengan temannya, ngobrol dengan adiknya suaminya mboknya pakdenya adik ipar, atau bahkan mengantri untuk petugas loket yang tutup tiba-tiba, gimana kita bisa tahan? 

Terakhir, itu semua tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam perjalanan pulang, aku hinggap di Taiwan dan Singapura. 

Di bandara Taiwan, Taipei, petugas bandara bekerja sangat lambat, bahkan menurutku cara kerjanya "Indonesia banget", banyak mengobrol dengan temannya. Saat itu, aku mengantri setidaknya selama satu setengah jam dan sama sekali tidak dilayani. Mungkin belum jam operasinya, tetapi sialnya tidak dicantumkan jam operasinya. Itu membuat aku jadi harus menunggu terus. Selama aku menunggu itu, petugas bandara yang berada di loket hanya mengobrol, ya mengobrol entah apa yang dibicarakan. Tetapi sepertinya asik banget. Setelah sekitar satu setengah jam dianggurin, kemudian sekitar 30 menit kemudian baru aku dapat giliran. Sangat berbeda dengan ketika di Jepang.

Sedangkan ketika di Singapura, pelayannya dan budaya mengantri sudah cukup baik, tetapi masih ada pekerja loket yang mengobrol ketika melayani customer, ini cukup mengganggu kurasa.  Terakhir, jangan ditanya ketika sampai di bandara Internasional Juanda. XD

Itulah sedikit banyak, curhatan tentang Jepang. Curhatan lainnya ialah awal mimpi ke Jepang, persiapan membuat visa jepang di surabaya dan perjalanan mencari makanan halal di Jepang

Semoga saja postingan ini ada manfaatnya, sebab seringkali curhatanku menyesatkan. XD
Thanks udah pada mau baca, aku biarin kalian komen, kalau mau. :P

11 comments

Hahaha, suka sama soal "apa kinerja kalian worth to wait"? So, kedisiplinan bukan dipaksakan, tapi gimana bikin orang jadi bisa disiplin dengan senang hati ya, hmm...

Btw soal yang katamu di atas "prajurit Jepang yg paling kejam di antara semua penjajah..."

Hmm pernah denger soal ini nggak?

Jadi temenku ternyata ada yg turunan Jepang. Kakeknya dulu prajurit Jepang yg tinggal di sini. Jadi katanya sih ada beberapa prajurit Jepang yg nggak setuju dengan apa yang dilakukan pemerintah dan rekan-rekannya di sini.

So, waktu prajurit2 lainnya pulang, beberapa memilih tinggal di Indonesia. Mereka cuma nitipin beberapa helai rambut atau barang lain ke teman-temannya. Dan bilang, "Katakan ke keluargaku di Jepang kalau aku sudah mati."

Orang-orang itu milih tinggal di sini demi "membayar kekejaman" Jepang. Tapi aku belum tahu detail soal ini. Misalnya, gimana mereka bantu pembangunan di sini untuk "bayar hutang kekejaman Jepang di Indo" *shrugged

Temenku itu katanya nggak sengaja nyeletuk ke Papanya, "Pa, Jepang itu jahat yo..."

Terus langsung diceramahi soal cerita tersembunyi soal prajurit2 Jepang yg milih tinggal di sini. Katanya pemerintah nutupin "bagian baik" dari prajurit2 ini"

Well... mada shirimasen...

Hahha.. bener tuh. Plis jangan nyalahin yang ngantri doang. Petugasnya juga harus lebih giat. Salut buat para petugas yang kerjanya fokus melayani antrian. Pengalaman sih di kantor pos dan bank B*I di kota ku... jam makan siang bukannya gantian shift istirahat malah pada buyar.. loket dibiarin kosong tinggal 1-2 orang padahal yang antri ampe 100an orang. Behh.. ya maunya sabar jadi gak sabar... :D

Bahkan cerita kenapa Jepang melakukan penjajahan juga sempat aku bahas dg Prof. Saat itu Jepang merasa takut akan dikuasai oleh eropa, secara mereka kan negara dengan jumlah penduduk yang sedikit. Maka solusinya ialah memaksa negara lain untuk berperang mempertahankan Jepang. Jadi penguasaan itu digunakan untuk menghapus ancaman dari Eropa.

Tapi tetap itu adalah sebuah kesalahan kok. Banyak yang mengakui bahwa itu adalah kesalahan pada pemerintahan era tsb.

Iya, bisa jadi yang mengantri udah baik, soleh, solehah dan suka menabung (apa hubungannya?). Tapi ternyata yang kerja lemotnya kayak Android Froyo yang belom diupgrade. XD

Paling nyebelin kalo lagi ngantri di minimarket kasirnya suka mendahulukan orang yang belanjanya lebih sedikit meski yg didepan udah ngantri duluan, eeerr

Iya, itu ngajak berantem banget deh.. :) Nggak adil. :D

Iya sih. Kebijakan pemerintahnya tetap aja salah.

Cuma bagian soal para prajurit Jepang yang bertahan di sini buat membayar kekejaman Jepang di Indonesia itu yang nggak pernah dibahas kan?

Kalau iya asyik tuh jadi ide cerita @_@

kenapa kau tanyak aku? kan temanmu yg cerita. :P

hahaha...
antri antri!!!
kalau anak2 saya pake teriak "ana awalan, ana awalan!" buat dapat antrian pertama. padahal, kadang dia bukan orang pertama yg datang (nah loh)

Retoris -_- Tahu retoris, nggak

Wahh.. Keren gan infonya ..
Kunjungi juga http://www.ajispedia.com/2016/01/ternyata-inilah-alasan-wanita-jepang.html

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top