Membangun Bisnis Cafe Jendela Mimpi di Pare, dan Mimpi Ke Jepang - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Membangun Bisnis Cafe Jendela Mimpi di Pare, dan Mimpi Ke Jepang


Bismillahirrohmanirrohim..

Cara menurunkan persamaan termodinamika pertama untuk mendapatkan persamaan keadaan dari sistem adiabatis gas ideal ialah dengan.... Emm... Sory.._^

Tadinya pada postingan kali ini aku mau ngasih Materi Kimia Fisika Energi dan Hukum Termodinamika Pertama. Tetapi karena ada momen spesial, yaitu momen baru bergabungnya aku di komunitas Blogger FLP, jadinya kali ini aku akan curhat aja deh. _^

Mengingat kemarin di group Blogger FLP udah ada yg mengalami kerusakan jaringan otak akibat membaca blog ajaib ini, maka kuputuskan untuk menuliskan sesuatu yang bisa dibaca dengan santai saja. Aku sudah pernah bilang kan kalau blog ini adalah blog personal? Ya, dipostingan ini What Kind Of Blog is Mystupidtheory.com?

Aku udah jelaskan bahwa di blog ini aku bebas menuliskan apapun, dari teori kimia hingga curhatan Al4Y. Kalau masalah tampilan blog ini yang terlihat seperti blog informasi yang isinya tulisan serius doang, itu karena memang aku carikan template yang cepat loadingnya untuk para pembaca materi kimia dan sains(pembacanya terutama anak SMA). Kasian banget kalau blog ini loadingnya lama, bisa-bisa mereka buka saat SMA, ehh... baru selesai loadingnya pas mereka wisuda, kan nggak lucu!

Bermimpilah!

Oke, ini curhatan yang tertumpuk yah.. Semoga nggak muntah-muntah membacanya!

Awal Mula Berbisnis Penulisan Online dan Gagal Beasiswa AAS

Kisahku dengan dunia maya sudah cukup lama, berawal dari diajak teman untuk ke warnet di Berau (Kaltim), dimana kami mendownload lagu dan hanya dapat 3 lagu setelah menunggu 2 jam, mainan facebook sampai 6 jam sehari saat pertama kali ke Jawa(karena internetnya puluhan kali lebih cepat), belajar buat blogspot (yang diisi puisi Al4y), kemudian masuk FLP Malang (karena merasa puisiku keren dan awesome-padahal baru diterbitkan di blogspot punya sendiri), ...............

Hingga akhirnya aku lulus kuliah Kimia, dan memutuskan untuk menjadi penulis online pada 2014(nggak nyambung! Biarin! :P)

Aku mulai menjadi penulis online dengan alasan simple, karena waktunya bisa aku sesuaikan sendiri dan dari rumah aja bisa dapat duit. Ide menulis online ini dapat banyak dari Pak Heri Cahyo. Tetapi yang lebih penting dari itu ialah, saat itu aku memang menunggu pengumuman beasiswa AAS (Yang aku gagal total dengan predikat mengenaskan). Kalau jadi schoolarship hunter gitu kan emang kadang neuron otak agak error, jadilah aku malah memutuskan menjadi penulis online.

Baca juga: cara menjadi penulis online

Setelah mengetahui gagal di dunia schoolarship hunter, sayangnya aku keterusan jadi suka dunia maya(dengan iming-iming earning dolar adsense yang hingga kini masih recehan aja). Akhirnya aku jadi malas cari kerjaan yang real(kantoran).

Awalnya ini aman-aman aja. Hingga pos kamling di kampung mulai ribut oleh isu bahwa ada lulusan Kimia UB yang nganggur aja dirumahnya. Karena orang tuaku keduanya ialah tenaga pendidik, maka isu ini sangat mengerikan bagi keluarga kami.

Bagaimana kalau masyarakat akhirnya berfikir bahwa "Percumah kuliah.. Itu anaknya Pak Guru aja, kuliahnya tinggi, jauh, jadi pengangguran juga tuhh dirumahnya aja".Demi membersihkan isu buruk itu, aku mencari jalan keluarnya (Seolah-olah heroik gitu).

Setelah beberapa saat, akhirnya muncullah solusi yang begitu ngaco dari lobus otakku yang nggak jelas bagaimana cara berkembangnya ini. "Aku harus merantau!" Aku ingin menghindar dari pendapat masyarakat. Aku sebenarnya tidak terlalu suka ini, tetapi kasian juga orang tuaku kalau harus malu akibat anaknya ini cuma suka kerja di depan laptop. Bahkan pernah sekali Ibuk ngambek dan ngomong ke aku.

"Dek, coba cari kerjaan gitu loh, biar ada penghasilan dan nggak menganggur dilihat orang."
"Lha.. Ini aku lagi kerja Mi" Aku sambil masih mengetik.
"Maksudnya kerjaan yang kantoran gitu lho, yang kalau masuk kerja pakai baju kerja rapi"
"Ohh.. Oke deh Mi"
"Oke apa?" Umi emang suka nanya gitu, dia selalu butuh kepastian.
"Oke dehh... Besok aku ngetik artikelnya pakai celana kain hitam, kemeja putih lengkap dengan dasinya."
"Huuh.. Dasar.. Itu siih sama aja"

Usai obrolan begitu, sebenarnya aku terus berfikir. Bagaimana agar Umi senang, dan aku nyaman?

Tak berapa lama setelah keputusanku untuk merantau itu, temanku yang berada di Jawa mengatakan bahwa dia butuh patner bisnis. Karena dikatakan aku dapat tempat tinggal, makan dan beberapa gelas kopi sehari, maka aku setuju untuk gabung menjadi patner bisnisnya.

Bisnis yang akan dibangun ialah Cafe, ya bisnis cafe. Saat itu sebenarnya aku juga tidak tahu apa peranku dalam bisnis itu. Apakah temanku perlu seorang S1 Kimia untuk mendestilasi air putih di cafe, melakukan ekstraksi bijih kopi, atau perlu metode baru untuk hidrolisis amilum pada beras(baca:masak beras)? Entahlah.. Tapi aku berangkat!

Baca Juga: Membangun Bisnis Online Ala Mahasiswa

Merantau Untuk Berbisnis

Tanggal 27 Desember, aku ketemu dengan Mas Ufuwan di Jawa, teman yang akan jadi patner bisnisku. Secara singkat, dia butuh teman nekat untuk bangun bisnis cafe. Karena dulu aku ke cafe-nya dan sering memberikan masukan untuk cafe-nya di kediri, maka dia tertarik untuk bersamaku membangun cafe tersebut.

Percayalah... Berbisnis itu butuh kerja keras. Di Awal mulai bisnis, kami punya target untuk membuka markas bisnis yang terbesar dengan keamanan jangka 10 tahun. Jadi kami akan sewa tanah selama 10 tahun, kemudian bangun bisnis kami disana. Itu ibaratnya jadi benteng pertahanan, harus menghasilkan cukup uang untuk kami menghidupi diri, sembari kami akan buka bisnis lain di tempat-tempat lain. Maka dalam 10 tahun, kami bisa melakukan banyak hal, termasuk mengumpulkan dan membuat aset bisnis yang menghasilkan uang.

Mas Ufuwan sendiri ingin membangun bisnis real, sedangkan aku kembali ke dunia maya membangun bisnis Online. Oh ya.. Ada yang aneh dan sama dalam pikiran kami. Kalau banyak pebisnis menggunakan prinsip
"Kalau Bisnisnya Jalan, yang punya bisnis Jalan-jalan"

maka kami sedikit menyimpang, setelah banyak diskusi, kami memiliki semangat yang sama,
"Kalau Bisnisnya Jalan, yang punya bisnis bisa kuliah lagi"
Nggak keren emang, tapi itu jujur, aku masih punya keinginan kuliah S2 di Luar Negeri, tentu saja masih di bidang Kimia.

Membentuk Ide Bisnis

Dengan semangat mahasiswa baru lulus, kami menuliskan proposal bisnis, dengan bantuan dari banyak pihak, proposal ini akhirnya selesai. Proposal ini menjadi starting point dari Cafe Jendela Mimpi. Awalnya kukira dengan proposal yang begitu menarik, angka-angka keuntungan yang jumlahnya besar, maka bisnis ini pasti dengan mudah didanai orang, dan ternyata benar.

Beberapa saat setelah proposal kami ajukan ke beberapa pihak, ada pihak yang menjanjikan dana. Setelah kami konfirmasi dan negosisasi. Ternyata benar Oke!

Bisnis itu Perjuangan!

Mulailah kami menyewa tanah (dengan DP), kemudian membangun pondasi calon Cafe Jendela Mimpi (selanjutnya kusebut JM) dengan menggelontorkan dana kami sendiri, sebab investor menjanjikan dananya baru bisa keluar bulan depan.

Sebulan kemudian, saatnya pembayaran dana, dan..... Investor tidak bisa dihubungi, tidak ada kabar, dan menghilang....

Ini adalah cerita pahit bisnis kami. Bangunan belum bisa berdiri, uang sudah dikeluarkan untuk mengmbangun pondasi dan mengolah tanah milik orang lain(artinya tidak bisa dijual lagi), dan sekarang dananya macet total.

Setelah berdiskusi panjang lebar, bahkan kami berdebat sehari empat kali (lebih rutin daripada jadwal makan!). Kami memutuskan untuk meneruskan proses pembangunan bisnis ini, seberapapun berdarahnya, akan kami tanggung.

Ternyata benar, membangun bisnis itu sangat berat ujiannya. Kami kehabisan resource (baca:duit) hanya dalam waktu singkat, akhirnya kami nggak bisa mempekerjakan tukang untuk pembangunannya, dan total pembangunan macet total.

Karena memang kami kehabisan ide untuk mengumpulkan uang dan saat ini kondisinya kami tidak punya kegiatan (read:pengangguran), maka kami putuskan untuk meratakan tanah, membersihkan sisa kayu di tanah calon dibangunya JM, dan mengaduk semen. Ya itu semua ialah pekerjaan tukang, dan kami telah melakukannya.

Bagiku, kerjaan seperti itu sudah aku lakukan sejak aku kecil. Kerja bakti membangun masjid, mengecor parit, dan mengaduk semen untuk plesteran rumah memang sudah diajarkan oleh Abiku sejak aku SD. So kerjaan macam ini, aku sih biasa aja. Tetapi aku salut dengan Mas Ufuwan yang tahan, sebab dia kan nggak pernah kerjain kerjaan cowok kayak gini.. wkwkwk.. Tapi dia tahan juga kok.

Selanjutnya dengan bantuan dari banyak teman-teman [Thanks so much for all of 'em!], akhirnya kami berhasil mengumpulkan dana untuk meneruskan pembangunan JM. Oleh karena terbiasanya dengan kerjaan tukang, maka kami terus membantu setiap inci pembangunan JM(*lebay).

Selama kegiatan pembangunan Cafe JM ini di pagi dan siang hari, setiap malamnya aku buka laptop dan kerjakan ketikan artikel untuk blog-blog orang, ini memberiku uang receh yang cukup untuk beli air minum dan makan pagi harinya. Pada satu malam, ketika aku mau mengetik artikel, di FB ada Message dari Dosen Pembimbingku, aku sungguh-sungguh bingung saat itu. Soalnya sudah cukup lama sejak terakhir memburu beasiswa, aku tidak pernah menghubungi beliau lagi.

Ketika aku klik dan kubuka, isi pesannya ialah "Fuzh, posisi di mana? Saya ada tawaran". Saat itu aku dag dig dug.. Oleh karena, kalau ini tawaran pekerjaan, maka aku harus menolaknya, karena sudah berjanji akan membangun JM dahulu, tetapi ini juga dilema, karena JM sekarang belum terlihat bentuknya, maka dalam waktu dekat JM tidak akan menghasilkan uang, sementara aku sedang nggak punya uang.  Akhirnya aku menjawabnya dengan cara yang paling santai.


Saat itu aku langsung tutup FB, dan mulai mengetik artikel pesanan orang. Selepasnya aku pulang, istirahat untuk kerja kuli lagi besok paginya.

Setelah Cafe JM mulai terlihat bentuk bangunannya, aku mulai semangat dan berapi-api lagi untuk segera membukanya. Oleh karena terlalu semangat pada bangunan baru jadi itu, Mas Ufuwan memutuskan menginap di Cafe JM yang masih belum sempurna (temboknya belum kelar). Sedangkan aku terlalu capek, dan memutuskan pulang ke kosan dan tidur di kosan.

Perjuangan Belum Berakhir

Keputusan Mas Ufuwan menginap semalam itu, berujung pada hilangnya tas ranselku yang berisi dompetku (semua isi penting di dalamnya), buku tabunganku, dan tak lupa pula laptop kesayangan milik Mas Ufuwan.

Untunglah, laptopku tidak hilang karena selalu aku peluk (ini real), sebelum tidur aku pasti peluk laptopku (dasar jomblo! Huuu!).

Kami mendekati titik dimana bisa memulai bisnis dengan tenang, dan sekarang aku kehilangan separuh kekayaanku (tas dan semua isinya milikku itu sekitar 2.5jt nilainya, jadi kalau laptopku yang masih kusimpan itu nilainya 2.5jt, maka tepat setengah hartaku udah ilang). Pada momen itu, aku mengutuki keputusan Mas Ufuwan untuk tidur di JM. Separuh diriku kesal dengannya, tapi sisi lain diriku memakluminya.

Aku sudah mengalami banyak kali kehilangan barang dalam hidupku, dan hampir semuanya itu karena kecerobohan dan keteledoranku. Aku selalu memaafkan diriku atas keteledoranku, kenapa tidak memaafkan atas keteledoran orang lain? Dengan dasar pemikiran itu, yaudah, aku maklum saja dengan kehilangan ini, dan berfikir optimis bahwa ada cerita dan ada pelajaran dibalik semua ini, toh sebentar lagi JM bisa buka dan kami akan punya penghasilan untuk membeli barang-barang itu lagi.

Hardwork Does Pay Off!

Satu malam setelah kehilangan itu, aku buka laptopku dan tentu saja membuka FaceBook. Ada sebuah pesan yang ternyata dari Dosen Pembimbingku. Isinya sungguh membuatku sangat senang, tiba-tiba seharian itu aku murah senyum. :) Ini isi pesannya:

Ya! Aku ditawarin kuliah di luar Negeri! di Jepang! Tidak seperti sebelumnya yang menjawab dengan ragu, kali ini aku mantap untuk mengambil tawaran tersebut.

Dengan modal laptopku, aku akhirnya menjual akun dunia mayaku (hasil jerih payah berbulan-bulan) dan beberapa blog untuk mendapatkan modal awal dibukanya Cafe JM.

Akhirnya pada 10 Mei, Cafe Jendela Mimpi cabang Pare dibuka! Alhamdulillah. Allahuakbar. Sekarang anak dari hutan Borneo ini punya Cafe! Cafe Jendela Mimpi di Pare Kediri.

Cafe JM belum tentu menghasilkan uang bahkan punya banyak kemungkinan gagal, tetapi sesuai pesan mentor saya Pak Nur Muhammadian, pengusaha asal Malang, sekaligus Pembina FLP Malang. Beliau berpesan dulu, sebelum saya mulai usaha saya.

"Mas Mahfuzh, jangan lupa Rayakanlah setiap keberhasilan kecil"

Aku merayakan keberhasilan kecil ini. Perayaan ini ialah perayaan tanpa keramaian, perayaan tanpa pengumuman. Perayaan ini dengan membeli jus dan bakpao di depan Cafe, karena ini adalah perayaanku, atas usahaku, jadi suka-sukaku aja.

Alhamdulilalh saat ini JM sudah cukup mandiri, menghasilkan uang sendiri. Aku meninggalkannya untuk diurus Founder-nya sendiri Mas Ufuwan. Terimakasih banyak Bro.. Saya dapat pelajaran bisnis terbanyak selama 6 bulan ini, ini saya yakini melebihi dari kuliah Bisnis 7 tahun sekalipun.

JM sudah ditinggal co-Foundernya, karena Bisnis jalan, pemiliknya kuilah lagi. Sekarang aku sudah mengurus Paspor, Visa dan siap berangkat ke Jepang, tanggal 18 Agustus besok. Ini dalam rangka Entrance Examination for Master Degree in Molecular Simulation" di Okayama University, Jepang.

Aku mohon do'anya dari kalian semuanya. Teman-teman FLP dan semua pembaca setia Myst. (gayanya kayak ada pembaca setia aja.. :v wkwkwk)

*Ini akhir postingan*

Selanjutnya mungkin aku akan posting mengenai pengurusan Visa ke Jepang


Thanks To #BloggerFLP yang membuatku menulis sebanyak ini. Serius, tulisan ini spesial buat kalian. :D

10 comments

Mantap. Penuh inspirasišŸ˜Š

wow! :D Omedetou. Cerita yg menarik

18 Aug, berarti malam ini.

Ah, entahlah.. berasa mimpi.
Jepang, blogger, FLP, penulis, cita-cita,...

Kita baru kenal kan? di dunia maya pula. Tapi kenapa saya merasa iri? haaaa

Thanks.. Semoga manfaat kak..

gurung tau jepangan Broo.. XD

Iya Mbak.. Hehe.. Irinya nggak penting, usaha untuk menghilangkan 'iri' itu yang penting.. :D Semoga sukses yang dicita2kan. :)

keren banget mas huda ini. semoga kuliahnya lancar ya mas huda. sukses buat bisnisnya juga. salam FLPBlogger.

aku akan tunggu tulisan-tulisanmu selanjutnya, Huda

Iya, aku nulis terus kok.. Sudah banyak selanjutnya.. :D

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top