Dasar Teori Preparasi Larutan Pengenceran dan Pembuatan Larutan Baku - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Dasar Teori Preparasi Larutan Pengenceran dan Pembuatan Larutan Baku


Praktikum Preparasi Larutan Pengenceran dan Pembuatan Larutan Baku sangatlah penting dalam mempelajari Ilmu Kimia. Teknik dasar laboraturium ini sangat diperlukan oleh Mahasiswa Kimia ataupun pelajar kimia. Pada Praktikum Preparasi Larutan, Pengenceran dan Pembuatan Larutan akan dikenalkan teknik dasar laboraturium, meliputi cara menuang larutan, cara menggunakan gelas ukur, gelas arloji, pipet ukur, buret, dan terutama penggunaan labu ukur.

Dasar Teori Praktikum Preparasi Larutan

titrasi larutan
titrasi larutan

Praktikum preparasi larutan umumnya dilakukan dengan menggunakan senyawa HCL, NaOH dan beberapa senyawa sederhana yang dapat diperoleh dengan mudah. Karena masih merupakan bagian dari pengenalan laboraturium, pada praktikum ini diperlukan pemahaman akan Pengenalan Alat-Alat Laboraturium yang memadai. Sebagai sesama pelajar kimia, saya ingin membagikan Dasar Teori Praktikum Preparasi Larutan Kimia berikut ini.

Tinjauan Pustaka Praktikum Preparasi Larutan

Pengenceran adalah pencampuran larutan pekat (berkonsentrasi tinggi) dengan pelarut umum yang bertujuan untuk meningkatkan volume dari larutan dan menurunkan kepekatan larutan. Pelarut ialah senyawa yang mendominasi jumlahnya dalam suatu larutan, contohnya garam yang dilarutkan dalam air, maka pelarutnya ialah air yang jumlahnya lebih banyak. Jika suatu larutan senyawa kimia dilarutkan dalam pelarut, terkadang dilepaskan sejumlah panas (eksotermik). Contohnya saja pada pengenceran H2SO4. Maka salah satu teknik dasar laboraturium yang diperlukan ialah melakukan penambahan asam sulfat ke dalam pelarutnya(air) dan tidak boleh sebaliknya, karena jika air yang dituangkan ke dalam asam sulfat, asam sulfat akan memercik karena reaksi kimia eksotermik yang tejadi. Percikan zat asam ini berbahaya dan dapat merusak kulit. (Braddy, 1999)

Dalam Pembuatan larutan baku dengan konsentrasi tertentu sering diperoleh konsentrasi yang tidak diinginkan. Maka untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya, perlu kita lakukan standarisasi. Standarisasi larutan sering dilakukan dengan metode titrasi. (Somishin, 1975)

Setiap zat padat, cair, atau gas memiliki kemampuan larut yang berbeda-beda pada setiap pelarut. Perbedaan wujud ini juga membeirkan indikasi bahwa pelarutan suatu senyawa harus menggunakan cara cara tertentu. Rencana dan prosedur dari setiap pelarutannya pun berbeda-beda, berkembang sesuai dengan sifat larut dari senyawa yang terlibat. Sifat analisis atau eksperimen yang diterapkan disesuaikan dengan reaksi tertentu agar analisis tersebut dapat memberikan hasil yang dapat diteliti dengan benar. Maka selain harus mengetahui persamaan reaksi kimia yang terjadi, alat-alat laboraturium yang digunakan juga harus dipilih agar dapat diperoleh hasil yang valid. Selain itu, pembuatan stok pereaksi berupa larutan harus menggunakan teknik atau cara pembuatan tertentu yang disesuaikan dengan sifat larutan yang ditangani.

Sebagai contohnya ialah pembuatan larutan NaCl 1M dan 0,10 M, atau pembuatan HCl 1M dan 0,10. Pertama-tama dilakukan teknik pengukuran volume menggunakan pipet volume, kemudian dilakukan pengenceran dengan menggunakan labu takar. Proses pembuatan larutan dari zat padatnya disebut dengan pengenceran. Begitu pula dengan proses pembuatan larutan dari zat pekatnya disebut dengan pengenceran. (Khopkar, 1990)

Pelarutan zat pada untuk menghasilkan larutannya sering dilakukan dalam kedidupan sehari-hari. Contohnya saja, sejumlah zat padat dituangi pelarut dalam voume tertentu, kemudian diikuti dengan pengadukan hingga terbentuk larutan. Pembuatan larutan dari zat padat biasanya dilakukan untuk membuat pereaksi pada analisa kuantitatif atau pada penggunaan lainnya di laboraturium. Pembuatannya harus mengikuti prosedur kerja yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Karena bila terjadi kesalahan akan menyebabkan pemborosan zat kimia yang berharga mahal, tenaga dan waktu yang terbuang sia-sia dan data pengamatan yang tidak valid. Kesemua dampak buruk itu harus dihindari.(Baroroh, 2004)

Pada umumnya asam-asam anorganik berupa cairan pekat ada yang berasap atau bersifat sangat korosif. Sedangkan zat cair organik umumnya bersifat mudah menguap (volatile) dan mudah terbakar. Asam-asam anorganik dan beberapa cairan organik seringkali harus disediakan dalam laboraturium berupa stok larutannya yang lebih encer dalam suatu pelarut. Teknik pengenceran cairan pekat asam anorganik dan organik pada dasarnya tidak terlalu berbeda. Teknik pengenceran ini melibatkan teknik penghitungan konsentrasi, pengambilan volume dan pengenceran larutan. (Henneth, 1992)

titrasi pembakuan larutan
titrasi pembakuan larutan
Larutan baku atau larutan standard merupakan larutan yang konsentrasinya telah diketahui dengan pasti. Untuk mengetahui konsentrasinya, larutan tersebut harus dibakukan atau di-standarisasi dengan ketentuan khusus sehingga disebut larutan baku. Cara paling umum yang dilakukan untuk standarisasi larutan ini ialah dengan menggunakan tekanik titrasi.

Pengenceran merupakan penambahan pelarut ke dalam suatu larutan. Prinsip dasar dari pengenceran ialah jumlah mol dari zat terlarut tidak akan berubah, shingga dapat dirumuskan dalam persaman:
M1.V1=M2.V2 ;dengan,
M1= Konsentrasi Pekat
V1 = Volume Zat Pekat
V2 = Volume Total (Zat Pekat + Pelarut)

Teknik Pengenceran daat dicontohkan pada proses preparasi Boehmite oleh hidrotermal dimana pengolahannya dibantu oleh sol-gel yang berasal dari alumunium alkoksida. Teknik pengenceran tersebut dijelaskan secara lebih rinci terutama pada proses hidrolisis. Untuk hidrolisis menggunakan hidrothermal, alumunium alkoksida diencerkan dengan toluen kemudian ditampung dalam wadah kaca. Wadah kaca tersebut kemudian diletakkan di sebuah baja stainless. Alumunium alkoksida yang telah terhidrolisis kemudian akan berdifusi dengan air menjadi larutan alumunium alkoksida pada kondisi hidrothermal. (Amin's dan Mirzae, 2005)

Daftar Pustaka

  1. Amini and Mirzae, 2005, Effect of Solution Chemistry on Preparation of Boehmite by Hydrothermal Assisted Sol-Gel Processing of Alumunium Alkoxides. Springer Science Business Media, Inc. USA. 
  2. Baroroh, Um L. U., 2004, Kimia Dasar I, Universitas Lambung Mangkurat : Banjarbaru
  3. Brady J. E., 1999, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Binarupa Aksara : Jakarta
  4. Henneth, 1992, Experiment in General Chemistry, Harcout Brace College Publisher : USA
  5. Khopkar S. M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia : Jakarta
  6. Semishin V.,1975, Laboratory Exercise in General Chemistry, Peace Publisher : Moscow

Artikel Kimia ini termasuk dalam proyek Cara Belajar Kimia Online
Untuk mebaca materi kimia lainnya silahkan Klik Di Sini 

8 comments

Wah, ane kira ini blog personal dengan joke-joke yang lumayan menghibur gara-gara judulnya yang my stupid theory. hehehe, tapi nggak papa, ane udah dapet ilmu tambahan dari artikel agan yang diatas :))

Ini masih blog personal, dan masih Aku tulis dengan pribadi.. Tapi yg dibagikan semoga manfaat.. Joke juga sudah banyak tuhh di blog ini.. :D

cara pembuatan dari bubuk kimia menjadi larutan dan rumus nya :
1. cara membuat bubuk HCL menjadi larutan HCL 0,7 N
2. bubuk NaOH menjadi NaOH menjadi larutan NaOH 1 N
3. bubuk ZnSO4 menjadi ZnSO4 menjadi larutan ZnSO4 5%
4. cara pembuatan bubuk Ba (OH)2 menjadi larutan Ba (OH)2 0,3 N
5. phenol merah bubuk ke larutan
6. pereaksi karbohidrat
7. pereaksi Cu menggunakan Regant A dan Regant B
8. Pereaksi Nelson

terimakasih
mohon bantuannya buat penelitian tentang potensi karbodioksida

cara pembuatan dari bubuk kimia menjadi larutan dan rumus nya :
1. cara membuat bubuk HCL menjadi larutan HCL 0,7 N
2. bubuk NaOH menjadi NaOH menjadi larutan NaOH 1 N
3. bubuk ZnSO4 menjadi ZnSO4 menjadi larutan ZnSO4 5%
4. cara pembuatan bubuk Ba (OH)2 menjadi larutan Ba (OH)2 0,3 N
5. phenol merah bubuk ke larutan
6. pereaksi karbohidrat
7. pereaksi Cu menggunakan Regant A dan Regant B
8. Pereaksi Nelson

terimakasih
mohon bantuannya buat penelitian tentang potensi karbodioksida

Itu nggak salah?penelitian pakai N (Normalitas)? Setahu saya sistem normalitas ini sudah tidak berlaku lagi secara internasional (IUPAC & NIST)

gimana lihat jurnal yg di atas gan

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top