Penyanyi dan Penulis Sebuah Komparasi Asal Jadi - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Penyanyi dan Penulis Sebuah Komparasi Asal Jadi


Penyanyi dan Penulis Sebuah Komparasi Asal Jadi- Mau protes sama judulnya? Silahkan, hitung-hitung kalian bisa nambahin komentar di blog ini yang sepi sunyi dan senyap.. XD

Blog macam apa ini? Entahlah.. Blog yang isinya saling jotos dan adu otot antara penulis dan pengunjung! Ahh.. Whatever.:X

Anyway, Aku lagi buka jasa penulisan artikel untuk para blogger yang tidak sempat menulis karena kesibukan membangun bisnisnya. Usaha ini aku namain:  Shadow Writers. Keren kan? Keren yakk? yak? Ala ala ninja gitu, dan sudah jelas tugasnya ngapain aja.. Hehe

Oke balik ke tema, beberapa hari lalu, Ibuk menyetel Youtube di Tabletnya, terus kebetulan aku tertarik karena yang di setel ialah acara Abu-abu *ehh.. Hitam Putih maksudnya*.

Di acara Kang Dedy Korbuserrr itu, diceritakan perjalanan penyanyi dari ngamen hingga masuk dapur rekaman dan sukses, kemudian dibandingkan dengan penyayi berkualitas lainnya yang masih belum beruntung dan masih mengamen.

Ada sebuah pernyataan dimana banyak sekali pengamen yang suaranya emas, tetapi belum memiliki kesempatan emas. Dari sini aku berfikir bahwa penulis juga seperti itu. Dan semua orang dalam dunia kreatif, seperti itu!

Menyanyi untuk Hidup dan Menulis untuk Kehidupan.


Penyanyi profesional jelaslah mereka yang telah masuk dalam dapur rekaman dan studio untuk menyanyi. Bayaran mereka tentu sudah melangit jumlahnya.

Penyanyi vs Penulis
Penyanyi dan pengamen
Tetapi penyanyi yang hanya menyanyi tanpa tujuan jelas, hanyalah penyanyi kamar mandi. Yang teriak nggak jelas, mengikuti nada tak jelas, dan tentunya tidak mengharap uang bayaran.

Sedangkan ada lagi pengamen ialah mereka yang setiap harinya bernyanyi dengan semangat, dengan menjiwai, dengan sikap yang seolah-olah setiap lagu yang Ia nyanyikan di bis seperti di atas panggung bisa saja menemukan peruntungannya di panggung sebenarnya. Jika kalian bertanya pada pengamen seperti ini "Kalau saya suruh nyanyi satu lagu penuh berapa Mbak/Mas bayarannya?" mereka pasti bisa menentukan harganya. Kenapa? Karena dia dapat menilai karyanya, dan siap dengan panggungnya! Mereka ini lebih hebat daripada penyanyi kamar mandi, dan ini yang saya sebut sebagai Pengamen Profesional.

Sama halnya dengan penulis, penulis profesional yang sudah mampu bersaing dalam dunia Penerbit Mayor ialah penulis dengan skill dan peruntungan emas. Maksudku tidak cuma mereka yang hebat dalam menulis, namun mereka juga telah menemukan peruntungannya.

Kalau saat ini aku mendefinisikan bahwa seorang penulis ialah orang yang mampu bertahan hidup dengan menulis, maka orang-orang diatas itu telah menjadi penulis.

Sekarang aku melihat banyak sekali penulis pemula, yang belum mampu bersaing di penerbit mayor sehingga belum bisa menghidupi diri dari menulis(seperti aku). Mereka terus menulis tanpa mengharapkan bayaran, hasilnya kualitas karyanya asal-asalan, tulisannya asal jadi, dan ini mengarah pada ceritaku tentang penyanyi kamar mandi. Pengamen lebih baik daripada mereka ini!

Lebih baik menjadi penulis pengamen kan? yang bisa meningkatkan kualitas tulisannya sambil memperoleh penghasilan untuk hidup.


Penulis pemula vs Pengamen

Jika penyanyi pemula yang belum menemukan peruntungannya di industri musik mencari uang dengan cara mengamen, maka ada baiknya mereka para penulis pemula(termasuk aku) mencari uang dengan cara mengamen lainnya.

Mereka bisa menulis untuk majalah-majalah kecil, dengan bayaran Rp. 30.000,- s/d Rp. 150.000 untuk satu cerpen, ataupun menulis di media online dengan bayaran yang lebih kecil. Tidak sebanding ya? Memang! Tetapi orang dengan niat total untuk menjadi penulis profesional tidak akan melewatkan kesempatan sekecil ini.

Jika penyanyi yang telah memiliki panggung dibayar jutaan atau bahkan puluhan juta untuk menyanyi, maka para pengamen harus menyanyikan ribuan lagu untuk dapat jumlah yang sama.

Logikanya adalah, kalau kalian penulis yang hanya dapat Rp. 1.000 atau Rp. 10.000 untuk setiap tulisan, maka kalian harus menulis sebanyak mungkin dalam sehari agar kamu dapat bertahan hidup dari menulis.

Kemudian Tingkatkan Kualitas Tulisanmu!

Walaupun aku bukan orang yang tepat untuk bicara mengenai kualitas, tetapi aku akan bilang satu hal, kualitas karya ialah rajanya!

Menjadi pengamen yang menyanyikan ribuan lagu, tanpa mempelajari nada dengan baik, hanya akan membuatnya menjadi pengamen terus. Tetapi pengamen yang berusaha memahami nada dengan baik akan meningkat kualitasnya.

Menulis juga seperti itu, usahakan meningkatkan kualitas tulisan kita, ke taraf yang lebih baik. Pahami alurnya dan mulailah banyak menulis.

Mustahil pengamen yang tidak punya kualitas akan masuk ke industri hiburan!Begitu pula dengan kamu penulis! 

Temukan Panggungmu

Pengamen yang diceritakan dalam program acara Abu-abu itu, memiliki kualitas suara yang mengagumkan! Tetapi bisa di bilang dia tidak punya panggung. Kenapa aku bilang begitu? Karena dia masih berkeliling bus, dan rumah makan untuk bisa dapat uang dari menyanyi.

Seharusnya, penyanyi seperti itu bisa menemukan panggungnya jika saja Ia mau. Pertama dia bisa mencoba meminta pemilik restoran yang bagus untuk menyanyi di tempatnya, awalnya minta saja percobaan dengan gratisan, selanjutnya tentu minta bayaran yang tepat. Atau dia bisa mengikuti lomba-lomba untuk meningkatkan reputasinya. Jika belum menemukan, ulangi cara diatas.

Jujur saja saya telah menulis dengan harga yang sangat rendah sebelumnya. Ibaratnya fasa awal pengamen lah. Kemudian saya menempuh cara pertama, yaitu menjadi penulis gratisan di blog besar, baru kemudian minta untuk menjadi penulis berbayar.

Trik ini cukup untuk menopang hidup sebagai penulis online. Langkah selanjutnya ialah mencari panggung saya, saat ini saya mengincar lomba-lomba menulis dengan spesifikasi khusus. Tujuannya jelas, meningkatkan reputasi, agar tulisan saya berharga lebih! Bukankah penulis profesional itu harga tulisannya lebih mahal?


Harga Tidak Menunjukkan Kualitas

Setuju!
Tetapi kualitas seperti apa yang kamu maksud?

Kualitas itu dinilai dari banyak hal. Seorang penyanyi profesional yang notabenenya dibayar lebih mahal, bisa jadi memiliki kualitas suara yang tidak sebaik pengamen jalanan.

Lalu kenapa orang mau membayar lebih? Karena brand yang dibangun! Dia lebih percaya diri, lebih cantik, lebih terkenal, lebih profesional, dan banyak kelebihan lainnya yang menyebabkan karyanya berharga tinggi.

Kalau dalam dunia penulisan, mungkin ide tulisanmu klise, mudah ditebak, dan hambar. Tapi bisa saja harga tulisannya mahal. Masih juga karena brand yang dibangun!

Idenya klise, tapi alur menulismu asik, pembacamu sudah banyak, dan gaya bahasa yang kamu gunakan lebih menarik. Maka tulisanmu akan berharga mahal.

Tulisan Berharga mahal, belum tentu berkualitas. Apalagi tulisan yang tidak berharga?
So pikirkan lagi, Anda ingin menjadi penulis seperti apa? Penulis Pengamen atau Penulis kamar Mandi?

Thanks for all..

Jika tertarik menyewa jasa penulisan artikel saya , silahkan menuju link ini   Shadow Writers.

3 comments

Olala... Semangat Fuzh XD. Setidaknya tulisanmu mengademkan aku yang depresi sebab terus saja dibilangin, "Idemu klise! Klise! Klise! Klise!" Iya, benar. Aku pikir seandainya ide klise, atau sederhana sekalipun masih bisa ditutupi dengan membaguskan di hal lain. Huhuhu

Aku mengatakan diriku sebagai yang lagi belajar. Sebab aq belum berhasil mencari uang dari menulis. Tapi aku akan berusaha menembus penerbit mayor bagaimana pun caranya dan seberapa pun terus ditolak :/ . Yang pentingkan terus belajar dan menulis >,<.

Entahlah, entahlah, entahlah....

iya, Nanti kau buat novel idenya klise nggak papa mol.. Buat brandingnya gini "Penulisnya imut n alay lhoo" gituu.. jadinya laku keras di kalangan anak alay mendunia.. :v :P

ASEM LU PUUUUUS. Lihat saja hasil belajarku selama berbulan-bulan iniiiih. Yang sialnya aku jg harus mengakui aku banyak belajar dr yg bilang ideku klise ini.

Tetapi aku ingin buktiin sama yg bilang ideku klise, kalau akan kututupi di teknik bercerita lainnya. Seperti qt mw bikin rumah, banyak komponennya. Idenya bisa aja sama kan, bentuk luarnya. Tetapi soal dekorasi dalam, perabotan dan sebagainya bisa qt atur sedemikian rupa. Aku pikir begitu. huh...

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top