Belajar Mengajar - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Belajar Mengajar


Kesibukanku sekarang ini masih seperti dulu, belajar. Aku sedang belajar bagaimana mengajar anak-anak kecil, SD dan SMP. Selama menunggu deadline beasiswa, aku mengajar les private dan mengajar di lembaga milik teman.Sudah terlalu lama aku menjadi penikmat pendidikan, sekarang saat yang tepat kurasa untuk berbagi pendidikan. 

Jika kalian tak bisa memekarkan bunganya,
jangan patahkan kuncupnya

Jujur saja aku mungkin termasuk yang tidak terlalu mengerti bagaimana mendidik anak kecil. Tapi namanya juga belajar ya terima saja kalau dapat giliran mengajar anak kecil. Kelemahanku yang sudah jelas ialah kurang sabar, kurang maklum dan kurang ajar. Kurang sabar kalau ada murid yang lambat daya serapnya, kurang maklum dengan kebihan dan kekurangan siswa, dan kurang ajar karena suka menyiksa siswa. Tapi percayalah itu cuma iseng belaka. 

Oh ya satu lagi mungkin saja satu kekurangan lagi, yaitu kurang meyakinkan kalau menjelaskan. Pernah sekali aku menjelaskan tentang perubahan satuan volume, yaitu dari meter kubik ke liter. Aku mencoba menjelaskan bahwa 1dm kubik = 1 Liter. Bayangkan sambutan apa yang aku dapat!

"Betul kah itu kak? Ahh... Kakak Sotoy"

"Grrr"

Mendengar komentar yang polos dan kurang ajar begitu aku rasanya panas. Ingin sekali aku jawab dengan sombong bahwasannya perubahan satuan Liter ke meter kubik, hektar ke meter kuadrat, dan cc ke ml itu semua sudah aku kuasai saat aku duduk di kelas tiga SD! Tiga SD! jauh sebelum kelas enam!

Tapi aku nggak mampu, aku masih khawatir kalau aku membentak dan meninggikan suaraku maka mereka akan takut. Aku masih khawatir kalau anak-anak kencur ini jadi benci matematika karena aku bentak. Dengan melakukan bentakan dan berlaku galak atau jahat maka akan membuat mereka menilai momok mata pelajaran yang diajarkan menjadi pelajaran yang tidak menyenangkan, dan ini akan berpengaruh pada kemampuan anak menyerap pelajaran selamanya. 

Aku nggak mau kalau anak-anak didik itu merasakan bahwasannya matematika itu mengerikan hanya karena aku sebagai guru suka membentak-bentak. Aku maunya mereka memahami matematika itu menyenangkan, memberikan pengetahuan dan manfaat dalam kehidupan nyata. 

Aku harus lebih banyak maklum pada anak yang kemampuan memahami materinya sangat lamban dan kemampuan bercelotehnya luar biasa cepat. Harus lebih maklum pada anak yang selalu menunggu penjelasan kedua. Belajar untuk memahami bagaimana jalan pikiran mereka yang sebenarnya aku juga gak yakin bahwasannya mereka mikir apa enggak. 

Aku juga harus belajar mengurangi sikap kurang ajarku dengan seenaknya memberikan soal yang terkadang berat di cerna otak kecil mereka. Belajar memberikan penjelasan yang jauh lebih manusiawi, tidak seperti menghadapi komputer yang sudah pasti kemampuan dan daya serapnya sama, kali ini beda harus banyak memodifikasi metode dan program. 

Ahh.. entahlah, cuma mau isi blog. semoga kalian bingung, mungkin itu tujuanku. 


 
Back To Top