Ingin Jadi Semut - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Ingin Jadi Semut


Kemarin lusa adalah tepatnya, hari dimana aku dapat pelatihan "the winning team" dari pak nur muhammadian. Dari pelatihan itu, kami ditanyai setu perrsatu "jika jadi binatang, kamu mau jadi apa?" dan saya jawab ikan.  Kemudian pak dian tanyakan lagi bagaimana suara binatang yang kalian pilih, jika binatang itu tidak pernah kalian dengar suaranya, atau tidak ada suaranya, kalian bayangkan saja seperti apa suaranya. Dan jelaslah suara ikan akan sangat aneh karena saya tak pernah mendengar suara ikan.
"Mahfuzh" seru Pak Dian, yang artinya saya harus dengan lantang menirukan suara ikan yang saya bayangkan.
"blukutuk.. Blukutukk.. Blukutuk" jawab saya yang buat ketawa orang-orang.
Kemudian pada sesi selqnjutnya kami dibagi berdasarkan jenis hewan yang kami pilih. Karena ikan adalah terlalu aneh, maka aku jadi bergabung dengan orang aneh lainnya itu adalah si monyet dan semut. Permainan selanjutnyq adalah studi kasus.
"jika di hutan terjadi kerusakan yang parah, kekacauan dan kejahatan yang merajalela apa yang harus kalian lakukan? Berdasarkan apa yang kalian butuhkan sebagai hewan" itu dari Pak Dian. Aku kemudian berfikir sebagai ikan maka yang aku butuhkan adalah banyak air, kemudian si monyet memikirkan harus banyak pisang di hutan dan si semut... Ohh.. Tahukah kau si semut? Apa yang Ia pikirkan? Itu adalah gula!. Dengan begitu sebagai angkatan 2009 yang dianggap paling bijak aku menyimpulkan bahwa apa yang kami butuhkan adalah paduan air, pisang dan gula. Itulah kolak pisang! Jadi untuk mengatasi kekacauan hutan, kolak pisang adalah solusinya. Tapi aku rasa biarlah anak muda yang jawab pertanyaan macam itu. Biar aja si monyet dan semut yang pikirkan.
Mereka jawab pertanyaan Pak Dian "Di hutan kami perlu kelompok untuk menjaga sumberdaya makanan". Alhamdulillah anak-anak baru ini lebih cerdas dari saya, jawaban mereka jauh lebih intelek daripada saya. :-)
Kemudian sesi selanjutnya kami dipisah dengan aturan semua kelompok harus memiliki jenis hewan berbeda. Jadilah saya berkelompok dengan si burung dan si mamalia. Kami harus mendiskusikan hal yang sama. Dan kesimpulannya agak mirip dengan kelompok sebelumnya. Semua tentang kesejahteraan setiap pribadinya, walau saya tak yakin dengan sejahteranya pribadi itu tidak akan teerjadi kerusakan.

Sesi berikutnya kami harus memilih seekor raja hutan yang pantas, raja yang tak hanya arif bijaksana juga kuat. Awalnya aku pilih mamalia, yaitu gajah. Tapi banyak yang tak setuju, mereka lebih memilih elang yang mampu mengintai seluruh hutan. Kami debat panjang, lebar, dan tak jelas. Hingga aku lihat semut kecil adalah yang paling cocok jadi raja hutan.
-Semut itu kuat, dia bisa mengangkat sesuatu yang lebih berat dari tubuhnya
-Semut itu bijak, merekalah yang paling mengerti arti gotong royong dan kerja tim
-Semut mungkin kecil, tapi dia lihai. Jika ingin mengintai seluruh hutan, dia bisa naik elang
-Semut juga predator penguasa, karena semua hewan bisa dimakan semut.
-Semut itu keren! Elang terbang bisa kesemutan dan jatuh, sedang semut sendiri tak bisa keelangan.
Ada yang bilang kalau semut jadi raja hutan, itu akan /susah, karena suara semut tidak kedengaran. Aku bilang ke mereka kalau semut itu kecil, kalau dia kasih perintah, dia naik ke telinga hewan lain untuk bisikin perintahnya, itu agar aman!

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top