Awal Hujan Malang - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Awal Hujan Malang


Malang, sekitar Juli. Aku baru saja berpindah ke kota ini, kota baru yang menurutku unik dan tentu saja sangat dingin. Ini masa setelah aku lulus SMU, lulus dengan nilai yang cukup mengharukan. Aku ke kota Malang mengikuti bimbingan belajar, itu untuk menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri(SNMPTN).

Sore yang gelap, mendung, awan berkumpul berusaha membuat hujan dan aku bergegas menuju Bina Cendikia, tempat bimbinganku. Beberapa meter menuju bina cendikia, dan hujanpun menghampiriku, arsiran-arsiran air itu jatuh kemudian membasahi pakaianku. Hanya basah ringan, tak ada artinya. Sampai di ruangan kelas, aku duduk disamping Setyo, dia temanku dari Kaltim. Kami berasal dari satu sekolah SMA, itu SMA 4 Berau, dan secara kebetulan kami bertemu di kota ini. Sedangkan di samping kiriku ada Eko. Seorang Anak jawa yang baru kukenal. Eko berasal dari kediri, dan setelah kuliah secara kebetulan dia menjadi teman satu kontrakanku, sungguh takdir itu ada.

Itu Bu Wulan, guru bahasa indonesia yang menerangkan tentang materi ide pokok cerita. Ibu Wulan sungguh mirip dengan guru SMAku, sama cantiknya, namun guru SMAku lebih lemah lembut. Ibu wulan sangat mengenal Aku dan Setyo, sepele karena kami berdua dari luar jawa, dari Kalimantan Timur. 

Pelajaran Bu Wulan berakhir, berganti dengan pelajaran Matematika, salah satu pelajaran yang aku suka. Itu juga merupakan mata pelajaran yang diajarkan Ayahku di SMP. Aku suka matematika karena logikanya, bukan hitungannya apalagi hafalan rumusnya. Matematika itu unik seperti Oksigen, bisa membakar tapi kau bernafas dengannya. Matematika tak bisa dihindari.

Usai Pelajaran Matematika aku mengajak Setyo keluar, mengajaknya main ke Mall MATOS. Itu masih gerimis, dan kami tak membawa payung. 
"Gerimis Fudz" Protes Setyo
"Ahh.. Cuma Gerimis," aku kekeuh
"Jalanannya juga banjir" lagi dia mengelak.
"Yaudah kita lepass sepatu aja!"
"Hah? Lepas sepatu?"
"Iya lepas sepatu, biar nggak basah. Nanti disana baru dipakai lagi"
"Malu fuzh."
"Malu sama sapa? Kan Nggak ada juga yang kenal kita?" Aku melepas tali sepatuku
"Mmmh.. Iya ya?"Dia mulai menunduk
"Iya, udah.. Orang kaltim nggak usah gengsian"

Akhirnya lepaslah sepatu kami, Aku berlari melintasi jalan yang berair, cukup dalam, itu sekitar 15cm. Temanku dibelakangku, kami melewati masjid di dekat MATOS, dan melewati MX yang baru akan dibangun. Kami tiba dibawah Mall yang megah itu, MATOS tertulis jelas.  Aku melambat, temanku malah berlari naik bersegera. Aku menyusul kemudian.

Tepat di depan pintu masuk temanku masuk berjalan dengan menjinjing sepatunya, kemudian Satpam MATOS melihatnya memperhatikan dan tersenyum, temanku tak PD Ia berbalik, mencariku.
"Fudz! Lho?" Setyo kaget agaknya
"Apa?" Aku pura-pura tak tahu
"Kapan kamu pakai sepatumu?"
"Heh? Tadi dibawah tangga"
"Sialan kamu! Kenapa nggak bilang-bilang?"
"Lha kupikir kamu senang mau ke Mall nyeker gitu, jadi yahh tak biarkan"
"Woo.. Kampret kamu Ahh!"
"Ya, Aku nggak mau aja dikira orang gila karena ke Mall menjinjing sepatu basah"
"...."

Setyo dengan cepat memakai sepatunya. Satpam yang dari tadi memperhatikan kami hanya bisa tersenyum, cengar-cengir macam kebo di sawah. Aku balas senyum si satpam dengan anggukan sopan, dan Aku menuju pintu Mall itu. Tak lupa kuucapkan Assalamualaikum sebelum pintu Mall terbuka secara otomatis. Aku masuk dan mulai bermain di mall.

Aku berjalan ke MATAHARI, itu untuk beli celana dan baju baru. Saat Aku dan Setyo melihat-lihat harga baju, aku mendengar beberapa pegawai sedang membicarakan tentang cuaca diluar.

"Di luar udan gak yo?" kata Mbak1 *(Di luar hujan tidak ya?)
"Grimis paling, lha gak onok guntur ngono" jawab Mbak2 *(Gerimis aja mungkin, kan nggak ada suara petir)

Kemudian kami lewat melihat-lihat baju. Demi melihatbaju kami yang basah Si Mbak2 menjawab

"Wahh udah deres iki ndek ngarep, lha teles kebes ngono klambine"
"Waduhh cucianku piye yo?" itu Mbak1 *(Cucianku gimana ya?)
"Yo Teles"

Entahlah, aku merasa jadi penanda hujan hari itu.. Kami mengambil beberapa baju dan pergi ke kasir, membayar dan pulang dengan baju baru dan cucian baru..

November keempat, dan ada niat bisnis baru.. semoga lancar.
Mahfuzh TnT
   

2 comments

Mwahahaha.... kasian temenmu itu Fuzh, kesimpulan: selalu berfikir positif, termasuk menyangka temenmu suka nge-mall nyeker :D
mengucapkan salam waktu masuk ke Mal juga ide bagus, kukira aku ini yang paling aneh, tiap masuk ke toko buku di kotaku... selalu berucap salam ahaha...nice post. *kenapa baru di post, kita kan balapan kemaren? :D

Om om sumpah nih blog berat banget. suruh fitnes po'o.

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top