Rumah Pohon Piring Daun - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Rumah Pohon Piring Daun


Salah satu hobiku adalah menikmati alam bebas. Aku sangat senang dengan kegiatan di alam bebas, memancing, berenang memanjat dan banyak aktivitas lainnya. Rumahku aslinya di Kalimantan Timur, tepat di sekitar rumah saya itu dahulunya adalah hutan, walaupun saat ini digusur untuk pembangunan tempat tinggal dan tambang batubara.  Saat awal tinggal di rumahku, itu sangat menyeramkan sekaligus sangat ngangenin. Setiap sorenya aku akan melihat monyet-monyet yang bergelantungan berpindah ke sarang mereka, saat malam ada siul burung hantu dan jangkrik di sekitar rumah, dan paginya kicauan burung-burung kecil yang bertengger di pohon rambutan dan jambu air.Hobiku berjalan-jalan menikmati alam bebas ini sudah berawal dari masa kanak-kanakku.

Itu Siang yang panas, terik seperti di gurun gobi yang ada di buku IPS SD. Aku masih kelas 3SD, masa-masa ketika kelakuanku unik. Aku sedang bermain masak-masakn dengan kakakku yang cewek, karena disekitar rumah tidak ada anak cowok yang bisa aku ajak bermain. Dalam permainan masak-masakan kami menggunakan api sungguhan, sayur sungguhan dan praktik masak sungguhan, hanya saja wajan dan piringnya kami gunakan tutup biskuit khongguan dan tutup kaleng susu. Dalam hal ini kami sudah cukup profesional dalam pembagian tugas-tugas. Kakakku yang wanita jelas harus memasak, dia menyiapkan garam, gula dan air bersih sebagai bahan masakan. Sedangkan aku berkeliling hutan mencari-cari tumbuhan pakis, atau kangkung air di sekitar rawa untuk dijadikan sayuran. Setelah bahan terkumpul maka, kami campurkan, aduk-aduk dan makan. Apapun rasanya itu selalu habis.


Berbeda  Koki, berbeda pula masakannya. Terkadang Aku bermain bersama anak-anak cowok di kampung bagian bawah. Kami ke hutan menangkap burung dengan ketapel dan perangkap atau sekedar mencari melinjo untuk kami bakar. Jika bermain masak-masakan dengan para cowok ini, maka yang akan kami buat adalah burung bakar, atau apapun yang bisa langsung dibakar dan dimakan.

Pernah suatu siang aku pulang dari sekolah. Kemuudia Ibuk marah padaku.

"Adek ini makan tadi pagi piringnya nggak dicuci! Ini rumah juga belum disapu. Ini semua khan tugasnya adek!" Aku dipanggil adik karena memang yang paling kecil saat itu.
"Iya mi, nggak usah disapuI aja coba, nanti juga kotor lagi. Itu juga cucian piring nanti juga numpuk lagi" itu aku yang nakal masih menjawab teguran ibuk
"Yasudah.. Klau gitu kamu makan nggak usah pakai piring, pakai daun aja! Ini juga baju-baju kamu nggak usah disetrika, nanti juga kusut lagi"

Saat mendengar kemarahan ibuk itu, Aku langsung sedih. Terbesit keinginan untuk kabur dari rumah. Aku merasa bahwa diriku bisa bertahan hidup, aku sudah punya cukup skill. Aku bisa berkebun, mencari buah, menangkap burung, dan memasak. Kesemua keahlian yang aku miliki itu akan membuatku mempu bertahan hidup.

Awal minggat yang aku pikirkan adalah aku butuh tempat tinggal. Aku perlu tempat untuk istirahat dan berteduh. Dengan kemampuanku yang sudah dilatih ayah dari kecil aku dapat membuat rumah-rumahan kecil. Itu dengan peralatan ayah yang aku pinjam. Aku membuat rumah pohon kecil di pohon rambutan belakang rumah. Rumah pohon tellah jadi, Kemudian aku mulai memikirkan peralatan masak, seperti korek api, tutup kaleng dan kaleng yang berasal dari logam dan kayu bakar. itu semua aku siapkan. Kemudian aku mencari tumbuhan-tumbuhan yang bisa disayur untuk makan sore ini. 

Saat sore yang penuh warna jeruk tiba, aku telah selesai memasak. Itu ada sayur pakis, sayur kangkung dan burung bakar. Masalah rasa jelas-jelas tidak terjamin. Setelah memakan semuanya, aku tidak merasa kenyang, ada yang aku lupakan, yaitu nasi.  Aku tidak mungkin memasak nasi hanya dengan kaleng. Jdi sore itu aku mengendap-endap, masuk ke rumah sendiri, untuk mengambil nasi. Ahh.. Hari itu alku mencuri, mencuri dari Ibuku, mengambil nasi dari rumahku.

Petang dan mulai malam, ternyata sangat gelap dan banyak nyamuk, rumah pohonku jadi menyeramkan tanpa lampu. Aku lupa kalau aku tak bisa memasang listrik di rumah baruku ini. Walaupun aku bisa saja tidur saat gelap, aku tidak bisa melewatkan malam ini tanpa TV. Akhirnya aku bertamu, yah bertamu ke rumah Ibuk untuk sekeedar menonton TV. Malam itu Aku numpang nonton TV dirumah Ibuk, tapi aku ketiduran dan terpaksa jadi anak baik lagi keesokan paginya. Pagi yang dingin, dan aku sudah mencuci piring dan menyapu pagi itu.. Terimakassih Ibuk, Terimakasih lbuk. Terimakasih Ibuk untuk tumpangannya malam ini, dan malam berikutnya. Terimakasih Ayah yang udah bayar listrik untuk Lampuku dan TVku.. 

Oktober yang Mebjelang Qurban ada rassa gugup takut dikurban, Aku kurus...
Mahfuzh TnT

5 comments

Wah, kecil-kecil belajar survive nih ye. Baguslah. Yang jelas, orangtua kita selalu ingin yang terbaik bagi kita,apalagi dalam hal pengajaran.Mendidik kita menjadi pribadi yang mandiri itu ibarat memberi kail untuk di bawa ke tengah lautan. Alangkah hal itu lebih baik, bukan? bukannya memberi kita ikan untuk dimakan ditengah samudera. Petualangan masa kecilmu seru sekali untuk diceritakan, saya juga pernah masak sayur bening di kaleng bekas susu bendera. Ah, jadi ingat masa2 penuh petualangan itu. :D

Heheheh...Saya dulu waktu kecil pernah juga kepikiran minggat...Tapi gakjadi karena setelah saya pikir panjang lebar ternyata gak enak...
Sekarang,dan setelah baca postingan ini saya menyimpulkan :

"Kalau mau minggat ya minggat aja, jangan terlalu banyak mikir. Kalau mau balik ya balik aja, nggak usah dipikir" hehehe

ya ampun, itu burung bakar, nyembelihnya gimana coba? jangan2 kamu bakar hidup2 XD.

Baca Bismillah Saat Berburunya..

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top