Puisiku Yang Kebelet - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Puisiku Yang Kebelet


Awal SMA, Itu jaman dimana Aku harus banyak beradaptasi dengan sekolahan baru. SMA yang aku masuki ialah SMA yang unggulan di kabupatenku. Setiap pelajaran yang kami hadapai terasa sangat melelahkan terutama karena banyaknya tugas. Namun ditengah hujan tugas itu ada sebuah manuver keren yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesiaku, dalam setiap mata pelajaran Bahasa Indonesia kami disuguhi permainan-permainan unik yang entah dari mana asalnya membuat kami refresh. Ibu Evi Namanya. Dalam setiap sesi mengajarnya Ibu Evi mengutamakan praktik langsung mengenai Bahasa Indonesia daripada harus membaca banyak teori-teori yang membosankan. Dalam praktek itu aku pernah membuat pantun, cerita, portofolio dan yang paling sering kami lakukan adalah membuat Puisi.

Setiap guru punya peraturan masing-masing disetiap kelasnya. Guru matematikaku itu , memberlakukan peraturan telat itu kena marah, dan tidak boleh izin ke toilet, telat atau tidak mengerjakan tugas itu tidak dapat nilai. Itu sepertinya menyiksa, namun mengajarkan kita kedisiplinan. Tapi itu lebih mudah dilakukan, dibandingkan peraturan Bu Evi di kelas. Ibu Evi memberlakukan peraturan, telat tidak papa, izin ke toilet juga boleh, tapi harus melakukan perizinan dengan menggunakan Puisi, Sedangkan untuk yang tidak mengerjakan tugas akan disidang.

Mekanisme sidang ini juga unik karena ada pengacara yang akan membela kita, dan itu dari teman sendiri. Jika pengacara gagal maka Wajib membaca puisi sebagai gantinya tugas, Jadi pandai-pandailah memilih kawan!.

Yah Kami Harus Berpuisi ketika Izin ke Toilet, dan itu mengagumkan. Jika saja peraturan yang sama seperti pelaajaran matematika yang tidak boleh izin ke toilet, Aku akan bersiap sebelum kelas masuk, sehingga ketika masuk Aku pastikan tidak kebelet buang air. Tapi untuk peraturan yang bebas seperti ini aku bisa saja terjebak kebelet di dalam dan harus membuat puisi. Peraturan yang santai ini akan mudah untuk mereka yang anak teater. mereka dengan mudah mengekspresikan kebelet mereka melalui puisi. Bahkan tak jarang mereka yang tidak kebelet juga tampil membaca puisi, cuma untuk latihan tampil di depan teman-teman..

Hari itu Mendung, dan siangnya menghujan. Arsiran-arsiran air itu jatuh, diterpa angin dan membasahi tanah. Aku masuk kelas Bahasa Indonesia siang itu. di tengah hujan deras yang membuat saya kedinginan. Rasa dingin itu entah mengapa berevolusi menjadi kebelet pipis. Celaka! Ini musibah!. Aku bertahan, dan berfikir untuk tidak izin hingga kelas selesai. Kata Ayah berdoalah ketika hujan, karena do'a ketika hujan turun itu di dengar Allah. Aku berdoa "Buatlah hamba bertahan hingga kelas berakhir Ya Allah". Namun Allah punya rencana yang jauh lebih baik. Allah takdirkan aku membaca puisi di siang itu. Siang yang hujan, siang yang mendung, ada rasa ngilu di hari itu.

Aku maju dengan rasa kebelet yang amat memuncak. Kemudian ketika aku mengatakan mau izin ke toilet, seluruh kelas diam, kemudian wajah mereka sumringah dan tersenyum, ada kebahagiaan tak terperi ketika melihatku menderita. Ya itulah teman, teman yang setiap harinya ku jahilin, dan kukerjain. Hari ini mereka menuntut balas dendam. Aku maju tanpa selarikpun puisi di kepalaku.

"Bu evi yang cantik, lihatlah sore ini hujan begitu deras
Itu tangisanku karena hukumanmu ini,
Adakah setitik iba di hatimu?
Tuk biarkan Mahfuzh yang baik berlalu
Tanpa hukuman, tanpa Puisi"
Untuk perizinan noermal itu akan langsung mendapatkan izin. Namun saat ini sepertinya ada badut yang sedang menyerahkan diri. Ibu evi bertanya kepada teman-teman "Diizinkan tidak??"
Sudah dipastikan temanku yang baik itu membatu perasaannya. "Tidak buu.. Kurang Ekspresif!"

Siall.. Beginilah resiko berteman dengan para siluman rubah. Mereka akan terus tersenyum ketika kamu panik dan terdesak. "Diulangi Fuzh, kurang ekspresif kata teman-teman kamu" Itu Ibu evi yang bicara.
Aku terdiam, Ibu evi sengaja mengerjaiku.. Ahh...
"Aduh..duh..duhh..
Kakiku merapat, otakku berantakan..
Aku Kebelet.. Aku kebeleet buuuu..
Aku mauu Piiiipiiis.. Udah nggak tahaaann.. Auhhh uhh uhh.."
Itu puisiku, dan setelah itu aku berlari ke toilet secepat petir. Dhuar!!

 Setelahnya aku kembali ke kelas, kelas belum berlanjut, masih setengah kelas terpingkal-pingkal melihat kelakuanku. Dan terlihat rasa puas di wajah mereka.
"Harusnya kamu masuk teater fuzh" Itu Ibu Evi yang bicara.
Aku hanya berlalu dengan kesal dan merasa dikerjain, di khianati teman-temanku. yang pasti Hal yang sama akan aku lakukan jika Aku jadi mereka.

Ahh.. Betapa rindunya aku dengan momen-momen saat itu. Momen saat Berkumpul dengan teman sekelasku..

Malang, Oktober yang menggembirakan, kakakku wisuda.
@MahfuzTnT

2 comments

NGAKAK! HEBRING! HUAHAHAHAHAH! Gila juga Bu Evi itu. Lebih gila lagi kok pada nurut ya sama peraturan seaneh itu? Hebat. Jadi penasaran ama kelasnya

gak ngebayangin kalau jadi teman-teman sekelasnya kak mahfudz. ckckck
kangen jaman SMA dan rangkaiannya...ah bu Evi emang keren kak...

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top