Misi Mengantar Kambing Suci - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Misi Mengantar Kambing Suci


Bintang Indah, hari raya kurban satu tahun yang lalu. Itu malam takbiran yang ramai, anak-anak dikontrakan tak kalah ramai.
"Wahh.. Madi wajib ya kamu Fudz?" Itu temanku yang bertanya
"Yahh.. Parah luu.. malam takbiran gini malah udah mandi wajib aja" Itu temanku yang lain menuduh

Malam-malam tengah gini Aku harus mandi, bukan mandi wajib, ini jadi mandi karena Aku habis peluk-peluk dan gendong kambing. Dan selama memeluknya aku tidak nafsu. Itu kambing sangat besar, dan harus kami kirimkan ke lokasi kurban untuk dibunuh esok hari.  Begini awal ceritanya,..


Pagi itu matahari sudah meninggi, mengirim paket-paket energi untuk alam. Aku Baru selesai cuci baju, ini sedang melihat komputer. Ada chating YM disitu
"Fuzh. Harga seekor kambing berapa yah?" Itu temanku yang chating. kami jadi teman karena sama-sama hobi traveling
"Satu sampai satu koma tujuh juta palingan Boi" Aku panggil Boi, karena penggilan itu sedang musim.
"Aku mau Qurban nihh, kamu bisa carikan kambing nggak?"
"Cari? Aku bisa, tapi aku nggak bisa beli"
"Iya-iya  nanti Aku yang Beli !" Temanku mulai kesal
"Mau yang harga berapa Boi?"
"Yahh.. Yang pantas dikurbankan lahh, jangan yang kurus"
"OK" Aku terima misi itu, misi mencari kambing suci.

Agak siang, itu saat matahari menunjukkan jam sembilan, Aku mencari kambing. Aku cari bukan di lapangan rumput atau peternakan, tapi di Facebook. Siapa tahu kambing jaman sekarang sudah punya akun FB sendiri. Kadang ada pengembala yang di sela-sela waktu mengembalanya Ia sedang bermain I-Pad dan bosan, mungkin saja Ia akan membuatkan FB untuk Kambingnya yang mau dibunuh. Aku cari kata kunci Kambing, dan benar saja, muncul Kambing Jantan(Entah mengapa ini Buku), Kambing Betina(Pesaing kayaknya), Kambing Etawa(Susunya mahal), Raja Kambing(ada mahkotanya gak yahh?), Kambing dinar(Ngiler pengen punya).

Sekitar 30menit Aku cari itu kambing suci, dan akhirnya ada yang cocok. Bukan Si Kambing sendiri yang menawarkan dirinya, melainkan ada pemilik peternakan kambing yang mau jual kambingnya. Beliau Pak Nur Muhammadian, Orang terkenal yang sudah sering saya tulis di blog ini. Beliau punya bisnis kambing, dan bersedia menjual dan mengantar kambingnya ke kontrakan kami.

Sore menjelang, ada warna merah tomat di cakrawala langit, dan itu saat yang indah ketika kambing kurban tiba. Kambing telah tiba, tapi temanku sedang tidak ada. Sehingga dilakukan pembayaran secara online, sungguh kambing yang istimewa, dibeli online, dan dibayar juga online, Aku harap besok Ia disembelih online juga.

Transaksi berjalan lancar, tapi ada massalah selanjutnya. Kambing ini akan dikurbankan di sebuah kampung terpencil, jaraknya sekitar 30menit pejalanan dengan sepeda motor. Nahh apa kami harus menuntun itu kambing ke lokasi penyembelihan? Atau mungkin kami sembelih saja di kontrakan, kemudian dengan webcam kami lihatkan prosesi penyembelihannya secara online, dan setelah dipotong-potong dagingnya barulah kami antar ke desa. Tapi itu jelas tak mungkin mengingat koneksi internet di desa yang minim. Mengantar kambing dengan mobil sudah tak mungkin karena mobil juga kami tak punya. Pilihan terakhirnya jatuh pada pengiriman menggunakan motor. Dan sejujurnya aku berpengalaman dibidang ini. 

Itu malam yang hitam, segelas kopi sudah aku seduh, aku seruput juga sampai dangkal isinya. Berdasar keputussan rapat yang kami lakukan secara online, Aku jadi ditugaskan membawa itu kabing suci ke lokasi pembunuhannya. Dengan mudah aku robohkan kambing itu, aku ikat dengan teknik tali-temali yang asal menjerat saja. Kemudian dengan posisi kaki terikat aku angkut kambing itu dengan motor. Temanku yang menggonceng. Ini posisi yang pernah aku pelajari dari ayahku, beliau yang mendesain teknik ini, teknik menyeimbangkan kambing diatas motor. Itu masa lalu, saat aku masih SD dan aku telah menguasai teknik untuk membawa kambing. Walaupun ukuran kambingnya tidak sebesar yang sekarang ini.

Sungguh besar ukuran kambing ini, ikatak, pegangan dan pelukanpun terjadi antara kami, demi mempertahanan posisi seimbang Si kambing. Jangan berfikiran setelah pelukan aku nafsu atau punya pikiran macam-macam sehingga harus mandi di malam-malam sekali, bukan! Itu karena Bau si kambing yang mengerikan. Bau yang buat aku mabok sepanjang perjalanan. Bau yang menyebar dan  bikin aku malu punya ini badan. Itulah sebabnya aku mandi lama, lama sekali dan mengguyur seluruh tubuhku. Sungguh itu pengalaman yang penuh indah.

Duhai kambing semoga engkau jadi tunggangan yang perkasa dan wangi parfum di syurga kelak..

Oktober akhir, uang sisa dikit tapi ke kafe yang asik, dan menarik
M. Mahuzh Huda

1 comments:

Huah! Sayang ga ada fotonya, Fuzh (nggak pernah mbayangin ada orang gendong kambing pake motor. Biasanya yang digendong sih bayi)

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top