Mengapa Membenci Sastra? - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Mengapa Membenci Sastra?


Aku suka novel. Itu untuk saat ini, walau tak banyak novel yang aku miliki. Tapi aku pernah membenci Novel, sangat benci, bahkan mendengar cowok yang baca novel itu aku ejek sampai ampun. Ada rasa kekecewaan yang mendalam ketika aku melihat novel. Semacam trauma, ohh tidak, itu benar-benar trauma. Tak hanya novel, tapi gurindam, prosa, karya sastra dan berbagai sahabatnya yang entah aku tak tahu. 

Itu masa putih biru, orang menyebutnya masa SMP. Dahulu kami sebut itu masa-masa pubertas, tetapi spertinya saat ini masa itu disebut masa-masa ABABIL(ABG Labil). Aku duduk manis di kelas yang cukup luas dan diisi oleh banyak orang. Itu hari pertama masuk kelas 2 SMP. Bertemu kawan baru, dan beberapa kawan lama yang spesial. Di sebelahku ada Deo yang menjadi sahabat baikku. Tak lama berselang ada suara motor, motor yang terkenal dan telah melegenda di SMP ini. Motor yang paling dihafal suaranya oleh para senior kami, itulah Suzuki G.S Tornado. Pasalnya, pemilik motor ini adalah guru bahasa indonesia yang sangat senior. Aku melihat jadwal pagi itu, dan tertulis jelas Bahasa Indonesia. 

Seorang guru masuk ke kelas kami, menyebabkan seluruh isi kelas berdiam, dan menjinak. Ketua kelas langsung menyiapkan kami. Pagi itu banyak sekali senyuman dari guru itu. Sesi perkenalan terjadi sangat alami dan menyenangkan. Bahkan beberapa humor lama juga mencairkan suasana kelas. 

Sudah satu bulan lamanya pelajaran Bahasa Indonesia di kelas ini kami lalui, dan aku telah menyadari sebab mengapa G.S Tornado itu bisa terkenal. Selain tugas yang banyak, semua dari tugas itu jarang sekali yang benar. Pernah sekali kami diberi tugas merangkum khutbah jum'at. Semua teman merangkum khutbah jum'at yang benar-benar mereka dengar. Celakanya, aku ketiduran saat khutbah dimulai. Jadi otakku bekerja dengan cepat dan mencari buku, yahh buku kumpulan khutbah jum'at karya seorang penceramah terkenal. Tiba hari pengumpulan tugas itu. Dan apa yang terjadi? Semua rangkuman khutbah salah! Semuanya dianggap salah, beberapa karena urutannya salah, ada juga yang tak sesuai dengan kaidah penyampaian khutbah yang entah darimana aturannya. Bagaiaman mugkin semua tugas kami salah karena kami merangkum khutbah jum'at yang disampaikan orang? Kami hanya murid SMP yang merangkum, dan urutan khutbah itu disampaikan oleh khotib. Ahh.. Bisa jadi itu semua salah khotibnya, yang menyusun khutbahnya dengan kurang tepat, tapi bagaiman dengan rangkuman khutbahku? Aku menyalinnya dari buku, yang ditulis oleh penceramah tingkat nasional. Dan tetap rangkuman khutbahku juga salah, tidak sesuai kaidah ini dan itu.. Aku kecewa, beberapa teman malah kesal.

Beberapa minggu berlalu, munculah tugas baru. Membaca novel dan memberikan resensi dari novel itu. Memang aku mengerjakan dengan asal-asalan saja, beberapa chapter dari novel aku lompati. Itu bukan karena aku tidak suka novel, hanya saja ada rasa malas karena yakin akan disalahkan lagi. Benar! Pengumpulan resensi, dan kami gagal semua. hanya tiga wanita yang selamat. resensi mereka diterima. Ahh.. enaknya mereka. Yang tidak menyenangkan adalah kami kena hukuman menulis ulang resensi itu sebanyak 50halaman. Yah! Itu terjadi, bahkan di era saat itu yang sudah ada komputer. Aku tak sanggup menuliskannya, hingga Ibuk membantuku menuliskan setengahnya, karena tidak tega. Iya tidak tega melihat kertas yag aku tulisi jadi hancur berantakan, seperti gambar gergaji. Aku jadi trauma dengan Novel, dan karya sastra lainnya, beruntunglah traumaku terobati, oleh guru Bahasa Indonesiaku yang SMU.Namun hikmahnya tulisan kami sekelas membaik, dan semakin cepat dalam menuliskan Bahasa Indonesia.. Terimakasih Guru Bahasa Indnesiaku, kalian berdua kombinasi yang baik!

Oktober, shubuh yang sepi
Mahfuzh TnT

1 comments:

Sebenarnya, saya hari ini bisa jadi adalah perlawanan dari kebodohan saya di masa lalu. Ah, entahlah. Hanya satu pesan guru Bahasa indonesia saya sewaktu SMA,"Kamu itu tidak bakat berbohong, apalagi menjadi plagiat." *edisi tugas resensi yang....ah, lupakan. Itu memalukan,seumur hidup. Tapi,saya coba melawan kebodohan itu dengan terus menulis. Kalau saya patah hati, mungkin selamanya saya tak akan pernah menulis. Terimakasih guru Bahasa Indonesia ku tersayang... *sigh

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top