Fisika Raga - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Fisika Raga


Itu masa putih Biru, dikelas 11 SMP, Saya memasuki semester 2 atau orang sering menyebutnya semester genap padahal boleh juga kita sebut semester prima. Saat itu baru masuk sekolah dari libur pergantian semester. Aku dengar walikelas kami yang juga guru fisika berangkat ke jawa, itu untuk kuliah lagi selama dua tahun. Sehingga kemungkinan hari ini akan ada pergantian walikelas. Pagi sekali jam 7.15 itu jika hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Satpam, Guru dan kepala sekolah belum datang, tapi penjaga sekolah sudah membuka pintu. Aku masuk. Aku sekolah di SMP ini, sedangkan Ayahku mengajar Matematika di SMP ini jadinya kami bernagkat bersama. Efek lain selain bisa berangkat bareng ayah, aku juga jadi dikenal oleh guru-guru di sekolah. Anak guru selalu diperlakukan spesia termasuk aku, diperlakukan sangat spesial. Seperti dihukum berlebihan jika tak mengerjakan tugas. Atau kena double Angry karena di sekolah kena marah ibu guru dan pasti di rumah kena lagi dari ayah yang tahu kejahatanku di sekolah.

Pagi itu cukup lenggang, Aku menuju papan pengumuman sekolah, sekedar melihat jadwal baru yang akan kami gunakan satu semester ini. Ada geografi di sana, dan PKN yang mengiringi, sedang penutupannya jam 12 siang ada fisika. Entahlah siapa pembuat jadwalnya, tapi yang jelas sepertinya orang yang benar-benar tidak memahami fisika dengan baik. Untuk seorang siswa SMP yang otaknya dalam tahap pengembangan, fisika di jam 12 siang adalah perusakan!

Hari itu berlalu dengan kosongnya mata pelajaran PKN, dan kami berharap fisika juga kosong. Itu karena guru mata pelajaran fisika kami yang sedang di jawa. Merasa positif thinking jam kosong kami bermain HP, beberapa di pojokan kelas sedang ejek-ejekan biasa lahh Ababil. Tiba-tiba muncul Pak Dian dari pintu masuk kelas. Beliau datang dengan tubuhnya yang tegap, walau sebenarnya susah menyembunyikan bentuk perutnya yang membusung, yah susah menyembunyikannya, bahkan saat aku menilis ini aku tak bisa menyembunyikan perutnya itu. 

Pak Dian adalah guru olah raga kami, walaupun terlihat sangar, beliau adalah orang yang baik, sangat baik. Setiap kali mata pelajaran Olah Raga beliau mengeluarkan semua jenis bola dari gudang, memberikannya kepada kami dan membebaskan kami di lapangan, sedang Ia sudah pergi dan tak muncul lagi hingg pelajran Olah Raga berakhir. Ya, itu semua karena beliau sangat mempercayai kami, murid-muridnya.

Kedatangan Pak Dian disambut dengan heningnya suasana kelas. Beliau masuk kelas, kemudian berjalan ke meja guru tanpa selembar kertas ataupun buku, hanya ada stop watch kecil yang menggantung dilehernya.
"Assalamualaikum... Ini kalian pelajaran Fisika ya?"
"Iya pak!" kelas riuh.
"Dikarenakan Pak Jaka sedang tugas ke luar kota, maka Saya yang akan menggantikannya mengajar Fisika"
Teng tong.. Krikk..Krik.. Ada hening dikelas, seakan-akan ada setan lewat.
"Pak, Kapan Pak Jaka pulang?" oke itu pertanyaan basa-basi, pertanyaan yang seolah-olah menghawatirkan Pak Jaka, Padahal kamu bisa aja bilang "Pak Dian, Apa Anda benar-benar kompeten di bidang ini?" atau bertanya seperti ini "Pak Tolong jelaskan kenapa Tekanan sama dengan Gaya dibagi Luas Penampang?" tapi jelas tak ada yang berani.
Rupanya Pak Dian ini orang yang kurang peka, Ia menjawab pertanyaan itu dengan semangat "Pak Jaka akan kuliah S1 selama dua tahun, jadi kalian tidak akan bertemu beliau lagi ssampai lulus nanti". Semua isi kelas diam. Aku tahu, semuanya khawatir. Khawatir mereka akan bertemu Pak Jaka dua Thun lagi, Itu kerena bisa saja kami tidak lulus karena diajar fisika oleh guru olah raga kami ini.

Jam 12.30, Pak Dian Mencoba menjelaskan Fisika. Itu materi tentang frekuensi, frewkuensi adalah jumlah gerakan berulang per satuan detik. Saat penjelasan itu, beberapa siswa yang memang agak lemot bertanya, dan beberapa yang keterlaluan pintarnya bertanya menguji. Al Hasil Pak Dian angkat bicara
"Baiklah untuk memahami apa itu frekuensi, kita praktek saja. Ayo kita ke luar kelas"  Pak Dian melepas Stop Watch yang ada di lehernya, kemudian memanggil Husen ketua kelas kami. Ini saat posisi kami di depan lapangan Bola basket. "Saya akan menghitung frekuensi denyut nadi Husen sebelum aktifitas" Itu Pak Dian yang bicara. Kemudian pak dian memegang tangan kiri Husen dan melihat stopwatc selama satu menit. "Nah, denyut nadi husen itu 43 kali permenit sebelum aktivitas, Coba kita lihat denyut nadi husen setelah aktifitas fisik". kemudian Pak Dian menyuruh husen untuk berlari keliling lapangan basket sebanyak tujuh putaran. Sebagai ketua kelas yang baik, tanpa bertanya, Husen mengelilingi lapangan Basket itu. Beberapa teman yang cewek menyemangati, seolah olah Husen sedang bertanding lari dengan denyut nadinya sendiri. 
"Yak! Sudah, Enam putaran, sini kamu Husen!" Itu perintah Pak Dian. Kemudian diketahui hasilnya denyut nadi Husen menjadi 83kali perdetiknya, itu nyaris dua kali lipat dari sebelum aktifitas.

Pak Dian menjelaskan bahwa frekuensi denyut nadi ini berbeda-beda setiap orangnya, dan berbeda pula untuk setiap aktifitas fisiknya. Celakanya masih ada juga kaum cerdas yang menguji Pak Dian "Pak Kenapa bisa berbeda?" Oke pertanyaan itu wajar, tapi jawabannya akan memasuki materi biologi. Pak Dian terlihat lebih bersemangat "Yah.. Itu semua karena aktifitas fisik setiap orang berbeda-beda, Cobalah Kalian lakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Husen". Aku masih mengira Pak Dian Bercanda saat itu, tapi ternyata tidak! Kami Sekelas benar-benar harus berlari keliling lapangan Basket. Kami berpasangan dua orang yang bisa saling menghitung denyut nadi. kemudain hasilnya sebelum lari dan setelah lari dicatat dan dikumpulkan. Karena mekanismenya harus berlari bergantian, itujadi menghabskan banyak waktu, dan kalian tahu? itu  jam satu siang saat matahari Kalimantan dalam posisi terbaiknya! Setelah selesai, Pak Dian sudah tidak ada, semua tugas dikumpulkan ke Husen yang jadi ketua kelas dan harus mengumpulkan ke ruang guru.

Begitulah kelas fisika saya yang unik, kemudian satu semester kami belajar fisika, dan banyak melakukan aktifitas fisika lainnya. Itu membuat kami dapat merasakan pelajaran fisika, tak sekedar teori dan bualan, tapi tubuh kami merasakan seluruhnya. Energi yang masuk dan keluar tubuh, kalori yang terbakar tubuh, dan Kecepatan bergerak tubuh kami sendiri. Inilah Fisika, yang praktek bukan asal teori. Terimakasih Pak Dian.. Tentang semuanya..

Oktober yang UTS, ada jurnal yang terlantar.
Mahfuzh TnT

2 comments

ahahaha.... keimpulan: banyak guru di Kalimantan yang sekolah lagi ke Jawa. Tapi kasihan juga ya muridnya.. Seni ke Biologi, Olahraga ke Fisika. Yah, bagusnya masih dapat memberikan motivasi. yaitu ketulusan sang guru yang 'siap' menggantikan mengajar, meski dengan style-nya masing-masing... :)

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top