Aku Ingin Membaca Bintang - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

Aku Ingin Membaca Bintang


Itu malam yang cukup dingin ketika tubuhku terasa panas. Sakit yang plin-plan panas-dingin. Aku demam malam itu, pusing dan mengigil. Beberapa tolak angin sudah aku buka dan minum. yahh tentu saja saya minum Tolak Angin, karena saya Dukun! ehh.. Orang pintar!. Daripada obat-obatan sintesis saya memang lebih suka obat-obatan yang sejenis jamu. Drr.. Drtt.. Drtt.. Itu bukan tubuh saya yang bergetar, tapi telepon tangan saya yang bergetar, kerena ada SMS.
"Mahfuzh Sudah di UIN?"

Aku masih bergelut selimut tebal.. Ohh.. Iya itu, Aku ada janji dengan teman-teman untuk melihat gunung Bromo. Setengah sadar Aku balas, "ehh aku demam mbak"
Tak beberapa lama, Aku baru teringat kalau cowok yang akan ikut rombongan hanya Aku dan teman sekontrakanku Muchtar. Iya nggak terkenal sihh temen saya itu, Cuekin aja lahh. Aku teriak ke kamar sebelah "Muchtar! Kamu ikut jalan ke bromo nggak?"
"Kalau kamu ikut aku juga, kalau kamu nggak ikut aku juga nggak ikutan" balas penghuni kamar sebelah.
Aku yang demam kemudian berdiri, tapi kepalaku pusing, oleng dan kembali kurebahkan badan ke kasur. beberapa menit berlalu, aku duduk, kemudian 5menit setelahnya Aku bangkit lagi.  Aku mencoba ke kamar mandi, Tapi badanku panas, jadi aku tidak mandi, takut airnya menguap. Aku sikat gigi dan cuci muka. kemudian sedikit mengelap tubuhku dengan handuk basah. Setelah itu Aku kembali ke kamar menyiapkan jaket dan Isi tas. Itu berisi Tolak Angin, vit.C, sarung, jaket, dan Al-Ma'tsurat.
Bismillah Aku Akan Berangkat. Aku SmS teman-teman untuk minta jemput kami di kontrakan.
Aku dan Muchtar Berangkat.  Allahumma Afini Fii Badani Allahumma Afini Fii Sam'i Allahumma Afini Fii Basari Aku percaya doa itu akan membawaku mendaki Bromo.

Aku Naik Mobil. Di mobil para penggemar telah menanti. Ini Serius!!

Aku hanya bisa duduk, menyandarkan Kepalaku di Kursi Mobil. Sambil terus mengulang doa Allahumma Afini Fii Badani Allahumma Afini Fii Sam'i Allahumma Afini Fii Basari.
"Kamu nggak papa Fuzh?"
"Ya nggak papa, kalau keadaan memburuk Aku nggak ikutan naik, kalian aja yang naik ke bromonya"
 Aku kembali tenang, santai menikmati perjalanan dan tertidur. Sesekali saya terbangun itu karena para wanita sibuk membicarakan anak PUNK yang sepertinya lewat di  jalanan yang sama dengan kami. Pandanganku melemah.. Dan Tertidur pulas kembali..

Sesampainya di Bromo Kami langsung turun menemui Toilet terdekat. Udara dingin selalu memberikan kenangan yang sama yaitu kenangan mencari Toilet. Di depan toilet itu juga terjadi keributan. itu karena teman-teman yang membeli topi Kerpus dingin. Penjual berebut menawarkan barangnya, Semua barang sama, dan harganya juga sama, yang beda hanyalah warnanya, jadi mereka bersaing dalam bagus-bagusan warna saja. Macam-macam tingkah para wanita ini,sudah dibeli baru dia nggak tahu cara makenya. membuat suasana di depan toilet semakin gaduh dan Ramai.. Sebagian tertawa, dan sisanya ngakak.

Setelahnya kami menuju Mushola terdekat, itu untuk ambil air wudhu, dan beberapa sholat malam. Selepasnya kami langsung jalan menuju arah keramaian. kemudian bertanya kepada-orang-orang yang lewat. Katika turunan gunung pertama kami baru terpikirkan Gunung ini gelap! Mana Senternya? Tidak ada senter besar yang kami bawa. Beberapa saaat Mbak heni mengeluarkan senter kecil, yahh senter bermerek Nokia. Senter yang bisa jadi  HP. Punyaku juga ada, bermerek LG, tapi batrainya sekarat sehingga nanti saja Aku gunakan. Kami Berjalan Mencari sumber cahaya, kemudian mengejarnya. Karena kami pikir tujuannya ialah sama dengan orang-orang yang lain yang membawa motor. Ternyata cahaya yang kami kejar ialah cahaya orang yang tersesat. Mereka juga tersesat. dan kami mengikutinya. Terpaksa kami berbalik arah.

Kondisi jalan sangat gelap, dan tak ada kendaraan, kami pejalan kaki, mungkin inilah yang dirasakan Para pejuang Islam di zaman Rosul, mereka menyusuri padang pasir dengan pijakan kaki mereka. Mungkin karena itulah Allah berikan banyak kemudahan untuk para musafir masa lalu. Mereka tak pernah tersesat, karena mereka mempu membaca arah berdasarkan posisi bintang, bahkan mereka dapat memperkirakan cuaca hanya dengan melihat bintang. Sungguh aku Ingin dapat membaca Bintang. Aku mencoba memperhitungkan, jika kami harus berbalik arah, kemudian belok ke arah cahaya, maka berdasarkan vektor arahnya jalur ini akan sangat jauh. Aku mencoba menyusuri pinggiran jalan, ada parit kecil disitu aku coba turun, pasirnya langsung ambrol turun. "Jangan Mahfuuuuzh!" itu ketua FLP yang ngomong, Mbak Fauziah, iya kurang terkenal sihh, tapi nggak papa. "Kenapa, ini cuma jalur air yang kecil di sebelah sana itu padang pasir juga Mbak!" Aku turun ke parit kecil dan naik ke sisi sebelahnya. "Ohh.. Nggak Bahaya Fuzh? Aku takutnya ada pasir Hisap" Itu masih Ketua FLP yang ngomong, "Ini kita sedang di hamparan pasir mbak, seperti di lapangan luas, lajur-lajur yang ada itu cuma jalur air. Lagian pasir hisap itu adanya di dataran rendah Mbak Zie!" Aku mulai heran dengan pola pikir ketua FLP ini.

Akhirnya rombongan mengikuti Aku yang memotong jalan menuju tempat tujuan, satu perhitunganku yang meleset adalah ternyata jalur memotong ini naik-turun  sehingga energi yang kami gunakan untuk mencapai tujuan tetap banyak, dan tetap melelahkan. Ahh apa boleh buat.. Dengan semangat baja kami menyusuri gundukan dan turunan pasir. Sejujurnya sakitku belum sembuh, jalanku sesekali sempoyongan, kepalaku pening, sakit, semacam migran, tanganku semakin membeku. kembali kuucapkan dengan pasrah Allahumma Afini Fii Badani Allahumma Afini Fii Sam'i Allahumma Afini Fii Basari. Allah Ialah pemilik Tubuh ini. Alhamdulillah aku tak pingsan, tenaga dzikir, tenaga itu semua khan Dia yang punya. Perjalanan panjang kami akhirnya memberikan sedikit kabar gembira, kami bertemu rombongan pejalan kaki lainnya. Kami telah dekat.. Tepat dibawah buki tujuan pendakian, kami harus berhenti sejenak, berhenti untuk menunaikan kewajiban kami Sholat Shubuh Berjama'ah. Memanfaatkan pasir yang sangat banyak jumlahnya, aku tayamum, membiarkan debu mengusap wajahku, membersihkan sombong, dan kurangnya syukur di hati. Ya Allah aku menghadap Engkau. 

Usai Sholat kami bergegas naik, mendaki, beberapa tak sabar dan berlari, tapi kemudian terjatuh. Percumah berlari di tanjakan berpasir yang engkau perlukan ialah pijakan yang kuat dan kesabaran meniti jalan itu hingga puncak. Fajar muncul sebelum kami tiba di puncak.. kami menikmatinya sejenak, mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenangan. Foto tak pernah bisa mewakili penglihatan mata, Mata Ialah lensa paling canggih di dunia, tak ada yang mengelak. Kenangan itu tersimpan di folder otakku.. Menyenangkan.. 

Fajar semakin naik, dan kami juga semakin naik, untuk menyelesaikan misi kami, mendaki Bromo. Benar-benar mendaki, naik ke atas, menyusuri padang pasir, dan meniti anak tangga hingga di puncaknya. Ada kesenangan yang mekar dihatiku saat itu.. Kepuasan pribadi melihat indahnya Ciptaan Allah..  Aku melihat ke bawah, ada jalur jejak aneh yang memotong jalan.. Aku berfikir itukah yang kami lalaui malam ini? Mengagumkan! Bagaimana mungkin Aku yang demam bisa melalui jalur itu? itu tak kurang dari 5Km. Mungkin karena gelap, dan tujuan kami hanya satu cahaya, kami tak pernah bisa melihat kebelakang, kami tak pernah bisa menentukan jarak tujuan kami, kami hanya ingin berada di satu titik cahaya, semakin dekat, semakin mendekat dengan segala daya dan upaya kami. Itulah yang membawaku ke sini, berdiri di puncak ini. Karena Allah Ridha.. Terimakasih ya Rabb...

Testimoni: Allahumma Afini Fii Badani Allahumma Afini Fii Sam'i Allahumma Afini Fii Basari. Allah Ialah pemilik Tubuh ini. Doa ini terbukti sangat cocok untuk Anda yang sakit, bukan hanya agar Anda sehat, tapi agar Anda akan lebih mensyukuri nikmat kesehatan itu.

Malang, 1minggu setelah pendakian. Oktober yang menginspirasi
Mahfuzh TnT

9 comments

inspiratif....

Walau tak dapat membaca bintang,ada setitik cahaya yang menjadi fokus tujuan. Dan jejak jalan memotong itu, ah.. bolehlah.menengok sesekali ke belakang untuk melihat sejarah, bukan sekedar cerita. Pelajaran berharga yang dapat diambil dari perjalanan ini. TFS, naik gunung waktu sakit itu sesuatu banget... :D

Terimakasih.. Sering-sering mampir yahh.. :D

Yang jelas semua berawal dari mimpi, semua berawal dari langkah pertama, perjalanan itu hanya miniatur kehidupan, maka itu jangan pernah kalah.. ahh entahlah.. saya hanya mau nulis asal.. :D

Yup, keep writing. Ditunggu cerita2 perjalanan selanjutnya...

Wooow. Saat inilah yg nulis juga plin plan. It sounds serious. Inspiring

It sounds seriously, i mean

Plin plan apa? Use " It sound so serious and inspiring" or "it sound seriously inspiring"
Blog ini khan bebas aja aku tulisnya.. nggak becanda terus, tapi tetep aku masukin beberapa joke lahh..

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top