"Hai Namaku Alifah" - My Stupid Theory

My Stupid Theory

Si Bodoh yang waktu dan pikirannya habis digerogoti oleh rasa ingin tahu.

"Hai Namaku Alifah"


Ini kisah tanya dariku... pertanyaan mengenai siapa tuhanku, siapa tauladanku, dan apa agamaku?

Pagi itu hari pertama masuk sekolah. Aku Fikri murid baru SMA Negeri 4 Berau. Sekolahku  adalah SMA yang terbaik di kota kabupatenku. Aku beranggapan aku hanya sedang dihinggapi dewi fortuna ketika mengikuti tes masuk sekolah dahulu, tapi orang tak percaya dan terus meminta resep kepintaranku. Akhirnya kuputuskan untuk menyuruh mereka banyak-banyak mengerjakan soal, setidaknya itu yang kulakukan untuk meningkatkan instingku dalam memilih satu diantara lima jawaban (a,b,c,d,e). Pagi indah merona, dan burung-burung penghisap nektar beradu cepat dengan datangnya lebah kembang. Aku sudah sibuk dengan baju baruku, menyambut sarapan lezat hasil kelincahan jemari ibuku di wajan mungilnya.

"Dek ayo cepetan! sudah telat ini!" Kakak sudah berpakaian rapi dan bersepatu.

"Bentar.. gak tau apa masakannya umi keterlaluan enaknya" sahutku asal.

"Pokoknya cepetan! atau ku tinggal!" sambil memutar-mutar kunci motor beserta gantungannya

Yang diancam mulutnya masih penuh dengan udang goreng."Ya..ya.. sudah siap ini!!" 

Aku langsung saja menyambar kaus kaki baru, dasi baru, dan sepatuku yang sama sekali tidak baru. "Pikirin.. Pokoknya asal masih bisa nempel di kaki ini ku pakai aja" begitu pikirku. Aku satu sekolah dengan kakaku sehingga kami(khususnya aku) terpaksa berangkat bersama.  Kharisma 125D warna hitam telah siap menemani perjalananku menuntut ilmu. Sekolah kami terlalu jauh untuk di kayuh dengan sepeda, sehingga kami menggunakan kendaraan bermotor walaupun aku belum memiliki SIM C.
Inilah salah satu spesial ability yang hanya dimiliki oleh bocah berbakat sepertiku. Ketika memarkirkan motor maka bel masuk sekolah berbunyi. Ini memerlukan kemampuan khusus, kombinasi ketepatan waktu dan kecepatan motor, ditambah lagi ada faktor-faktor tak terduga seperti lampu merah. Tentulah aku spesies terakhir yang baru hadir di kelas. Dengan tampang paling (sok)baik aku coba memasuki kelas, namun tak ada yang memberiku senyuman sedikitpun. Mungkin karena aku gagal menyembunyikan hawa jahat yang memancar dari tubuhku. Aku menunggu guru mata pelajaran yang ternyata berbaik hati memberi kami waktu berkenalan. Semua orang sudah asik dengan percakapannya, sedangkan aku masih santai di pojok ruangan, di kursi kayu dengan pandangan ke arah jendela kelas. 
Setelah beberapa menit mungkin mereka telah bisa mentolerir hawa jahatku, beberapa anak menghampiriku.

"Fikri yahh?" Sambil menyodorkan tangannya.

"Ya, kok aku udah terkenal yahh?" bukannya GR, tapi beberapa anak mungkin telah mengetahui namaku, karena reputasiku yang "sangat baik" saat aku mendapat honorable mention dilanjutkan dengan penghargaan push up di depan lapangan saat MOS kemarin.

 Anak itu tersenyum "Terlampir jelas di dada kananmu" jawabnya, yang diiringi gelak tawa kami bersama.
         
Setelah perkenalan singkat itu aku baru tahu, bahwa sang pemilik senyum pepsoden itu bernama Putra, sedangkan dua orang yang bersamanya Ardi si pemilik kulit hitam, dan Arif si manusia bermata empat.
Aku beradaptasi dengan percakapan mereka, yahh.. bisa ditebak anak baru jelas membicarakan masa-masa SMP-nya,  serta kebodohan-kebodohan kecil yang mereka banggakan. beberapa saat mataku tertarik pada seorang wanita, Ia yang berkerudung hingga menutupi segenap auratnya. aku bukan melihat pada kostum yang ia gunakan, apa lagi wajahnya. tapu apa yang ia lakukan. Di tengah-tengah keramaian kelas oleh suara pedagang-pedangang asongan yang lepas kendali, Ia mngarahkan matanya pada sebuah kitab kecil, dan melantunkan suara-suara indah penuh kedamaian. Perempuan itu membaca Ayat-ayat tuhanNya. 

"Itu Alifah, Anak MTQ , saat di tsanawiyah dia salah satu yang paling pintar di kelas." Arif memotong pembicaraan yang sedari tadi sudah ku cuekin.

"Dulunya sekelasmu yahh Rif?" Ardi menyudahi ceritanya, ceritanya tentang SMPnya yang di pedalaman hutan bersama suku-suku pribumi (baca : dayak)

"Iya. tiga tahun kami sekelas, dan dia tetep paling pinter" Arif membetulkan kaca matanya yan tidak longgar

"Wahh Alim beneran tuhh... sampai bawa Al-Qur'an dikelas" Putra bergabung dalam topik ini, senyumnya teap berseri

"Lihat aj, paling hanya sehari dua hari aja alimnya keliahatan" komentar Ardi sinis

"Shodakallahhal adzim." Ku baca gerak bibir perempuan itu.

         Kulihat tak seorangpun menyodorkan tangan padanya demi berkenalan ataupun mengobrol sekata, dua kata dan tak seorangpun mendekatinya dengan senyuman terkembang.
                                                      ***

        Demi melihat peristiwa itu, aku teringat kejadian di masa laluku, aku besar di kondisi keluarga yang sangat memperhatikan keagamaanku, karenanya aku disekolahkan di MI, kalian tahu itu? yahh..Madrasah Ibtidaiyyah. Aku menjadi anak dengan dasar keagamaan yang baik, namun itu hanya bertahan hingga ketika aku memasuki SMP. Pagi itu kusaksikan berbagai kesia-siaan yang dilakukan semua teman baruku di kelas, aku duduk di pinggir pojok bagian terdepan dan hannya melakukan yang biasa kulakukan di MI dahulu, Aku mengulang hafalanku. hingga sehari penuh tak ada satupun guru yang masuk, mungkin karena ini adalah pertemuan pertama, tetapi yang aneh adalah aku tak mendapatkan satu nama pun dari teman sekelasku,  tak ada yang mengajakku berbicara sekalipun. Aku sadar menjadi anak yang terlalu beragama itu sudah menjadi najis bagi lingkunganku, ketika aku ketahuan sholat maka tak terhitung yang mencercaku, ketika aku mengaji beberapa anak kan membicarakannya tak henti-henti bagaikan aku telah mencuri dompet teman sekelasku.
                                                      *** 
Ketika kelas dua SMP aku merubah segala perangaiku. aku sholat hanya untuk menggugurkan janjiku pada Abi(baca : bapak). mengajipun hanya sesedikit mungkin, hanya sekedar agar Abi tahu kalau aku masih islam. yahh.. Sekarang aku masuk dalam dunia yang menyenangkan. Aku punya banyak teman, mereka akan terus membantuku bahkan akan membelaku ketika aku di pukul sekalipun. yahh.. Inilah diriku, aku yang populer, aku yang gaul, dan aku yang menjadi pemimpin. 
                                                      *** 
Tak henti kuperhatikan perempuan berjilbab itu. Ahh.... iya, Alifah namanya.

Kuperhatikan hingga kini, tak seorangpun yang menyapanya. Aku yang telah merasakan kejadian yang sama hanya tersenyum sinis,
"Kapok!! siapa suruh jadi orang sok alim? Kau Rasakan itu!! Itu ganjaran bagi ornag-orang yang baik." Entah atas dasar apa aku menyumpahinya,
Kemudian kusaksikan Ia tersenyum manis, dan menyapa seseorang disampingnya
"Hai, Namaku Alifah." seraya menyodorkan  tangannya
Ohh.. Kini tertunduk aku, malu meratapi luka diri, tak pernah berusaha namun  ingin setiap orang mengenalku. Sungguh betapa hinanya aku, menyalahkan agamaku hanya karena sifat pengecutku.
                                                      ***

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing." (HR.Muslim , 208).

‘Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang mulai melakukan kerusakan." (HR. Ath-Thabrani).

Beruntunglah orang yang melihat aku dan beriman kepadaku ( Rosululloh mengucapkan sekali). Beruntunglah orang yang tidak melihat aku akan tetapi beriman kepadaku ( Rosululloh mengucapkan tujuh kali)."

Malang, ditemani bang Fadli..

4 comments

Subhanalloh, cerpenmu menarik Hud. Nggak ngebosenin atau dibuat2. Kirain tadi masih sedikit panjang lagi, ini kalau dijadiin cerbung pasti lebih bagus lagi!

Beruntungnya orang yang terasing, aku mau jadi orang yang terasing.

haha.. sudah ku duga.. ajeng2.. kau emang hanya bisa memuji, padahal cerpen ini dapat kritikan masalah EYDnya yang masih aku pelajari.. hahaha.. tapi g papa dehh.. nanti buat cerpen lagi.. kalau ini d buat cerbung bisa aku pikirkan nantinya.. hihihi

kalo soal EYD, maaf...kadang aku juga typo :p

aku tau sapa alifah yang dimaksud dcerpen ini :p

What comes into your mind?
Shoot me some comment!

 
Back To Top